#Piala Dunia 2026MUHASABAH

Ketika Sepak Bola Mampu Menyatukan Dunia, Mengapa Ukhuwah Islamiyah Masih Ternoda?

Islam Menawarkan Persatuan yang Lebih Tinggi

Persatuan dalam Islam tidak dibangun atas dasar ras, suku, bahasa, ataupun batas negara. Ikatan suci ini dibangun sepenuhnya di atas landasan akidah.

Karena itu, ukhuwah islamiyah sifatnya universal dan tidak dibatasi oleh paspor atau garis geografis. Sejarah mencatat bahwa di masa kejayaan peradaban Islam, kaum Muslim dari berbagai etnis dapat hidup harmonis.

Mulai dari etnis Arab, Persia, Kurdi, Turki, Berber, sampai Nusantara, mereka berada dalam satu ikatan politik dan peradaban. Walakin, keragaman budaya mereka tetap terjaga dengan baik.

Pelajaran pentingnya adalah persatuan tidak lahir hanya dari kesamaan emosi sesaat. Persatuan sejati lahir dari adanya visi bersama yang berlandaskan akidah.

Di tengah dunia modern yang semakin terpolarisasi, umat Islam memerlukan upaya serius untuk menghidupkan kembali semangat ukhuwah ini. Langkah ini bukan untuk menghapus perbedaan pendapat dalam perkara ijtihadiyah.

Tujuannya adalah menjadikan kesamaan akidah sebagai dasar utama untuk saling menguatkan satu sama lain.

Penutup

Sebentar lagi Piala Dunia 2026 akan berakhir. Akan ada satu negara yang mengangkat trofi juara dan jutaan pendukungnya akan bersorak gembira.

Namun, begitu lampu stadion dipadamkan, dunia akan kembali berhadapan dengan persoalan yang jauh lebih besar daripada sepak bola. Barangkali pelajaran terbesarnya bukan soal siapa yang menjadi juara.

Pelajaran terpenting adalah bagaimana manusia ternyata bisa bersatu ketika memiliki tujuan yang sama. Jika satu pertandingan sepak bola saja sanggup menyatukan dunia selama 90 menit, semestinya akidah Islam bisa menyatukan umat sepanjang hayat.

Persatuan ini tidak boleh lahir hanya dari slogan semata. Ia harus lahir dari kesadaran bahwa setiap Muslim adalah saudara yang diikat oleh keimanan kepada Allah Swt.[]

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button