Kisah Ukasyah yang Dirindukan Surga
Ia berkata, “Wahai Ukasyah, kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Akulah orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah sampaikan. Akulah temannya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, pukullah aku.”
Kemudian, Rasulullah saw. menjawab, “Duduklah, wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dan Ukasyah.”
Ukasyah kembali berjalan menuju ke hadapan Rasulullah. Tiba-tiba, bangunlah kedua cucu kesayangan Rasulullah, yaitu Hasan dan Husein.
Mereka berdua memohon kepadanya, “Wahai Paman, pukullah kami, Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami, wahai Paman. Sesungguhnya kami ini adalah cucu kesayangan Rasulullah, pukullah kami, wahai Paman.”
Begitu sampai di tangga mimbar, dengan tegas Ukasyah berkata, “Bagaimana aku bisa memukul Engkau, ya Rasulullah? Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau Engkau mau aku pukul, turunlah ke bawah sini.”
Rasulullah memang manusia terbaik. Beliau meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi, “Dulu waktu Engkau memukulku, aku tidak memakai baju, ya Rasulullah.”
Tanpa berlama-lama, dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Dilihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, dengan beberapa buah batu terikat di perut Beliau sebagai pertanda sedang menahan lapar.
Kemudian, Rasulullah saw. berkata, “Wahai Ukasyah, bersegeralah.”
Ukasyah terus menghampiri Rasulullah saw. Tangan yang memegang cemeti untuk dipukulkan ke tubuh Rasulullah itu justru melempar cemetinya, lalu ia langsung memeluk tubuh Rasulullah seerat-eratnya.
Sambil menangis terisak, Ukasyah berkata, “Ya Rasulullah! Ampunkanlah aku, maafkanlah aku. Mana ada manusia yang sanggup menyakiti Engkau, ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku bisa merapatkan tubuhku dengan tubuhmu, karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan tersentuh oleh api neraka.”
Kemudian, Rasulullah saw. dalam keadaan sakit bersabda, “Wahai sahabat-sahabatku semua, kalau kalian ingin melihat ahli surga, lihatlah Ukasyah.” Allahu Akbar.
Pelajaran Penting dari Ukasyah bin Mihsan
Kisah di atas memberikan banyak pelajaran penting dari sahabat Nabi saw., Ukasyah bin Mihsan. Pelajaran tersebut meliputi keteguhan iman, keberanian membela kebenaran, ketulusan cinta kepada Allah dan Rasulullah, serta keinginan meraih kemuliaan di sisi Allah.
Keinginannya untuk menuntut balasan (qisas) dari Rasulullah bertujuan agar tidak menjadi tanggungan di akhirat. Pengorbanannya yang tulus ini mengantarkannya pada pencapaian tertinggi sebagai ahli surga tanpa hisab.
Ukasyah bin Mihsan menunjukkan ketulusan dan keikhlasan dalam mengamalkan ajaran Nabi. Ia mencintai Rasulullah melebihi dirinya sendiri.
Dengan meminta qisas, Ukasyah sebenarnya bertujuan untuk mendapatkan ampunan dari Allah dan tidak ingin ada tanggungan di hari kiamat. Tindakannya tersebut membuat Rasulullah saw. memberikan kabar gembira bahwa Ukasyah termasuk penghuni surga tanpa hisab. Wallahu a’lam.[]






