Lonceng Kematian Demokrasi: Pesan dari Aksi No Kings No War
Demonstrasi serentak di Amerika Serikat yang diikuti sekitar delapan juta massa menunjukkan adanya koreksi total terhadap model kepemimpinan Trump saat ini.
Meningkatnya angka pengangguran serta krisis multidimensi pada sektor sosial, ekonomi, politik, hingga keamanan menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diselesaikan.
Faktanya, gaya kepemimpinan Trump justru memicu puncak krisis karena dinilai para demonstran tidak lagi menjalankan prinsip-prinsip demokratis.
Ambisi America First yang memprioritaskan kepentingan nasional Amerika di atas negara lain disinyalir menyeret negara tersebut ke jurang kebangkrutan multidimensi.
Kebijakan luar negeri tersebut telah menjebak Amerika dalam berbagai peperangan kawasan demi mengamankan kepentingan kapitalisme global.
Keterlibatan Amerika dalam konflik Iran melawan Amerika Serikat-Israel mengakibatkan kerugian materiil yang sangat besar, baik dari sisi militer maupun ekonomi.
Fenomena gerakan no kings no war menunjukkan telah terjadi pergeseran nilai di negara kampiun demokrasi yang kini dinilai berubah menjadi otoriter.
Rakyat menilai pemimpin negara telah menyalahgunakan kekuasaan demi ambisi pribadi dan sering kali mengabaikan aspirasi publik.
Demonstrasi tersebut juga mengungkap ketidaksinkronan antara keinginan rakyat dan ambisi pemimpin yang ingin direalisasikan secara paksa.
Upaya mewujudkan ambisi pemimpin pada tataran faktanya justru membebani rakyat melalui tarikan pajak yang semakin mencekik.
Gerakan no kings no war akhirnya menjadi parameter kegagalan sistem demokrasi dalam menyinkronkan kebutuhan rakyat dengan keinginan penguasa.
Ketidakmampuan demokrasi dalam membentuk kepemimpinan yang manusiawi menunjukkan ketidaklayakan sistem ini dalam mengatur urusan hidup manusia secara menyeluruh.
Kekacauan ini merupakan konsekuensi logis karena demokrasi hanyalah sistem buatan manusia yang sarat dengan keterbatasan serta kekurangan.






