Manfaat Kesehatan di Balik Kebiasaan Berjongkok
“Orang-orang Afrika akan mengklaim jongkok begitu itu adalah milik kami… Negara-negara Slavia di Eropa Timur juga akan menyatakan ‘itu jongkok ala kami’. Tapi ini adalah jongkok ala semua orang,” katanya.
Para terapis fisik menjelaskan bahwa berjongkok membutuhkan kelenturan yang jauh lebih besar pada bagian pinggul, lutut, dan pergelangan kaki. Efeknya, Anda akan merasakan sensasi peregangan di lebih banyak bagian tubuh dibandingkan dengan melakukan gerakan jongkok biasa.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa peregangan ekstensif ini dapat membantu meningkatkan mobilitas dan fleksibilitas tubuh. Selain itu, gerakan ini juga efektif mengurangi nyeri punggung serta memastikan kebebasan bergerak secara keseluruhan sepanjang hidup kita.
Anak-anak cenderung dapat mengambil posisi jongkok dalam ini dengan sangat mudah tanpa perlu bersusah payah. Hal tersebut sebagian besar disebabkan oleh kelenturan sendi mereka yang lebih baik dan proporsi tubuh yang berbeda.
Namun, perubahan anatomi bukanlah satu-satunya alasan mengapa banyak orang dewasa kehilangan kemampuan untuk berjongkok dalam.
Gaya hidup modern yang didominasi oleh aktivitas duduk, seperti penggunaan kursi dan kloset duduk, membuat orang dewasa jarang mempraktikkan gerakan ini. Kondisi tersebut pada akhirnya berkontribusi langsung pada berkurangnya mobilitas dan kekuatan tubuh seiring berjalannya waktu.
“Jika tidak biasa jongkok, kemampuan itu akan hilang,” kata Powers, yang penelitiannya meneliti bagaimana perubahan gerakan berkontribusi pada cedera lutut.
Mengapa Masyarakat Asia Mudah Berjongkok?
Perubahan gaya hidup akibat modernisasi ini jarang terjadi di beberapa wilayah Asia seperti Jepang. Hal itu dikarenakan mayoritas aktivitas kehidupan sehari-hari di sana masih melibatkan posisi berjongkok.
“Mereka tetap harus bisa berjalan masuk, melepas sepatu, berjongkok di atas tikar tatami, lalu duduk dan menikmati hidangan,” kata Hsu, yang juga merupakan pendiri Upright Movement, sebuah perusahaan layanan pendidikan tentang gerakan dan kebugaran.
Aktivitas harian lain yang lebih mendasar juga sangat melibatkan kekuatan otot pinggul dan kaki ini.
“Di beberapa bagian Asia, mereka hanya memiliki toilet jongkok. Jika orang harus buang air besar dengan cara itu setiap hari, setiap kali perlu ke toilet, mereka tidak akan kehilangan kemampuan ini dengan mudah,” ujarnya.
Hsu berbicara kepada wartawan BBC selama wawancara 40 menit sambil terus mempertahankan posisi jongkok dalam untuk waktu yang lama. Sepanjang sesi wawancara tersebut, ia tercatat hanya melakukan istirahat sebentar sebanyak beberapa kali saja.
Ia mengungkapkan bahwa kesadaran akan pentingnya gerakan berjongkok menjadi sangat jelas bagi dirinya karena pengalaman personal keluarganya.






