SEHAT

Manfaat Kesehatan di Balik Kebiasaan Berjongkok

“Ayah saya pernah terjatuh hingga harus memanggil ambulans untuk menjemputnya dari trotoar karena dia tidak bisa lagi bangun sendiri,” kata Hsu.

Meskipun memiliki latar belakang etnis Asia, Hsu mengaku sempat kehilangan kemampuan berjongkok dalam pada usia 20-an tahun. Hal itu terjadi setelah ia terpaksa duduk dalam waktu lama selama proses pemulihan dari cedera olahraga yang dialaminya.

“Saya ingat, bahkan tidak bisa menyentuh pergelangan kaki saya karena tubuh saya begitu kaku,” katanya.

Hsu harus melatih kembali tubuhnya dan menegaskan bahwa kemampuan melakukan jongkok dalam dapat dipelajari kembali seperti keterampilan fisik lainnya.

Panduan Cara Melakukan Jongkok

Bagi masyarakat yang ingin menguasai kembali gerakan jongkok dalam, Hsu mengingatkan agar tidak melakukannya secara berlebihan sebelum tubuh siap.

“Jangan terburu-buru dan langsung turun sepenuhnya, karena kemungkinan besar Anda akan mengalami cedera,” katanya.

Sebaliknya, ia menyarankan untuk memulai latihan berjongkok secara bertahap dengan bantuan perabotan rumah seperti kursi atau meja dapur. Latihan menurunkan badan ini sebaiknya hanya dilakukan sejauh yang dirasa nyaman oleh tubuh.

“Jika Anda melakukannya beberapa kali setiap hari selama beberapa minggu, Anda akan menyadari: ‘Oh, saya merasa aman. Saya bisa turun sedikit lebih rendah di sini’.”

Muncul sebuah pertanyaan penting mengenai apakah orang dewasa memang perlu belajar melakukan gerakan berjongkok kembali. Sebab, kemampuan fisik ini secara alami dirasa akan menjadi semakin sulit seiring dengan bertambahnya usia manusia.

“Seiring bertambahnya usia, kita kehilangan kelenturan pada sendi, tulang belakang, pinggul, dan terutama pergelangan kaki,” kata Powers.

“Hal itu semakin membatasi kemampuan kita untuk melakukan jenis squat ini,” ujarnya.

Para peneliti sepakat bahwa aktivitas squat pada tingkat kedalaman apa pun akan tetap membawa manfaat kesehatan bagi tubuh. Namun, Powers memperingatkan agar tidak memaksakan jongkok dalam sebagai tujuan utama, terutama bagi individu yang memiliki riwayat sakit lutut, pinggul, atau punggung.

Dalam pengaturan klinis medis, gerakan squat sering kali dimodifikasi tergantung pada tipe tubuh, cedera, riwayat, dan tujuan dari pasien. Kompleksitas medis tersebut, menurut Powers, sering kali luput dari perhatian ketika gerakan ini dibahas secara bebas di jagat daring.

“Setiap orang memiliki cara terbaik, tetapi itulah kenyataannya,” katanya. “Setiap orang berbeda.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button