OPINI

Melemahkan PBB Bukan Kebijakan Baru AS

Presiden Recep Tayyip Erdogan mengecam tindakan Israel di Gaza dan Tepi Barat yang diduduki dalam pidatonya yang keras di Majelis Umum PBB.

Haruskah markas PBB berada di AS?

Pertanyaan mendasar lainnya adalah apakah PBB akan berada dalam kondisi yang lebih baik seandainya markas besarnya tidak berada di Amerika Serikat.

Terlalu lama Washington memandang PBB sebagai alat bagi kepentingan nasionalnya atau sebagai pihak yang berseberangan dengannya.

Washington bahkan menggunakan posisinya sebagai negara tuan rumah untuk mengecualikan para pemimpin dunia yang dipandangnya bermusuhan atau tidak diinginkan, seperti Ketua PLO Yasser Arafat dan kini Presiden Palestina Mahmoud Abbas.

Jelas, keputusan-keputusan tersebut hanya dapat diambil oleh Majelis Umum PBB.

Namun, seorang sekretaris jenderal yang memiliki pandangan jauh ke depan dan keteguhan politik seharusnya memberikan pandangan dan kepemimpinan mengenai pertanyaan-pertanyaan mendasar tersebut untuk menyelamatkan organisasi dari marginalisasi lebih lanjut dan kemungkinan kehancuran. []

*Moncef Khane adalah mantan pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ia memiliki karier lebih dari 30 tahun di bidang hak asasi manusia, urusan politik, pemeliharaan perdamaian dan misi-misi politik khusus, Majelis Umum, Dewan Ekonomi dan Sosial, serta Kantor Eksekutif Sekretaris Jenderal Kofi Annan.

Ia pernah menjadi Fellow di Kennedy School of Government, Harvard University, dan Institute for the Study of Diplomacy, Georgetown University. Ia memiliki gelar master dari Fletcher School of Law and Diplomacy serta Kennedy School of Government.

Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button