TECHNOTAINMENT

Mengurai ‘Lipstick Effect’: Mengapa Konser Musik Laris di Tengah Ketidakpastian Ekonomi?

Meski diwajibkan melewati prosedur administrasi seperti penyerahan KTP asli hingga verifikasi akun Instagram, Shinta merasa puas. Fitur perbesaran optik ponsel tersebut memungkinkannya menangkap detail wajah personel EXO, seperti Suho dan D.O., kendati tempat duduknya tidak dekat dengan panggung utama.

“Resolusi videonya sangat tajam, reproduksi warna tetap stabil meskipun di bawah sorotan lampu tata panggung yang dinamis,” puji Shinta. Satu-satunya kendala yang dijumpai adalah kerumitan memindahkan data video berkapasitas puluhan gigabita ke flash drive menggunakan konektor OTG agar waktu sewa tidak terbuang.

Bagi Shinta, sistem penyewaan ini lebih efisien karena memungkinkannya menggunakan gawai mutakhir tanpa harus membeli, sehingga dana dapat dialokasikan untuk membeli tiket kelas VIP di masa mendatang.

Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi

Tumbuhnya bisnis persewaan ponsel merupakan indikasi mikro dari pergerakan ekonomi yang masif dalam ekosistem pertunjukan. Minat masyarakat Indonesia untuk menikmati pertunjukan musik secara langsung tetap tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi.

Saat ekonomi global menantang, masyarakat mengadopsi fenomena lipstick effect, yaitu memprioritaskan biaya rekreasi dan hiburan demi meredakan stres. Temuan survei Jakpat pada 2025 mencatat 52 persen responden menonton konser untuk mencari hiburan, sementara 46 persen lainnya bertujuan melepas stres.

Aksesibilitas masyarakat menikmati pertunjukan musik juga didukung oleh fitur pembayaran tunda (paylater). Data platform pemesanan tiket LOKET sepanjang 2023 hingga 2025 menunjukkan transaksi paylater meningkat 44,05 persen, jumlah tiket terjual naik 51,21 persen, dan nilai pasar kotor (gross market value) tumbuh 58,98 persen.

Fenomena ini menunjukkan bahwa industri pertunjukan bukan sekadar sarana hiburan, melainkan instrumen pendorong ekonomi. Hal ini terlihat dari dampak berganda (multiplier effect) konser internasional terhadap peningkatan pendapatan industri penerbangan, perhotelan, transportasi, dan UMKM kuliner.

Merespons potensi ekonomi yang besar, pemerintah berupaya memperkuat ekosistem penyelenggaraan konser agar musisi global tidak mengalihkan jadwalnya ke negara tetangga. Mengambil pelajaran dari tur global bintang besar seperti Taylor Swift, BTS, dan Blackpink, Indonesia mulai membenahi sarana dan prasarana penunjang.

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara didorong berpartisipasi mewujudkan fasilitas konser kelas dunia sekaligus mendampingi proses negosiasi untuk mengundang musisi global. Pemerintah juga merencanakan fasilitas serupa di Ibu Kota Nusantara (IKN).

IKN diproyeksikan menghadirkan concert hall bertaraf dunia mengusung rancangan “Cerlang Nusantara” karya Tim Gregorius Antar Awal, pemenang Sayembara Desain Pusat Kebudayaan Nusantara. Fasilitas ikonis tersebut rencananya mulai dibangun paling cepat pada 2027.

Tren maraknya acara konser di Indonesia terbukti menggerakkan perekonomian pada berbagai tingkatan. Efek berganda dari tren ini tidak hanya mendongkrak devisa negara, tetapi juga menyuburkan pertumbuhan industri kreatif turunan.

Peluang kerja musiman seperti usaha penyewaan gawai premium yang dilakoni Ima menjadi representasi bahwa ekosistem hiburan yang terbangun mampu menciptakan peluang kesejahteraan baru bagi masyarakat.[]

Sumber: Xinhua

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button