TEKNOLOGI

Mesin Cuci Otak Bernama Algoritma

Antara Algoritma dan Tanggung Jawab Kultural

Kita tidak bisa menyalahkan seluruhnya pada mesin. Algoritma hanyalah alat; manusia yang mengisinya dengan data, enggan mentanyaikannya, atau memilih untuk mempercayai irasional adalah bagian dari masalah.

Di Indonesia, di mana penggunaan media sosial tumbuh pesat dan menjadi sumber informasi utama bagi jutaan warga, tantangan ini semakin akut.

Ketika konten palsu terkait politik atau kebijakan publik diserap tanpa kritik, efeknya bukan hanya persepsi yang terdistorsi, tetapi keputusan politik yang diambil berdasar persepsi itu—bukan realitas objektif.

Para ahli dan lembaga global pun terus memperingatkan bahwa tanpa literasi media yang kuat, demokrasi akan mudah runtuh di tengah tirani algoritma.

Bahkan ketika masyarakat semakin peduli media tradisional yang dipercaya, ancaman konten bermuatan politik yang tidak akurat tetap membayangi ruang publik digital.

Menjadi Manusia di Era Digital

Di tengah gelombang konten yang tidak bisa kita hentikan, pertanyaannya bukan lagi soal benar atau salah sepenuhnya, tetapi: apakah kita cukup kritis untuk membaca di balik narasi yang diwujudkan layar?

Pendidikan media, pengecekan fakta, refleksi pribadi, dan pembiasaan membaca lebih dari sekadar judul sensasional bukanlah opsi—itu adalah tugas demokrasi yang belum selesai.

Jika kita gagal memperkuat imunitas kognitif kolektif, kita bukan hanya rentan terhadap hoaks, kita akan kehilangan ruang paling berharga dalam demokrasi: kemampuan untuk berpikir secara mandiri dan rasional di tengah arus informasi yang terus menerpa.

Tanpa itu, kita bukan hanya menjadi target algoritma—kita menjadi produknya.[]

*)Dosen Universitas Bung Hatta, Padang, Sumbar.

Laman sebelumnya 1 2 3
BACA JUGA
Close
Back to top button