Mesin Cuci Otak Bernama Algoritma
Oleh: Muhibbullah Azfa Manik*
Yang lebih mengkhawatirkan, negara kadang ikut bermain. Alih-alih melindungi publik dari disinformasi, sebagian elite justru memanfaatkannya. Mereka membiarkan hoaks beredar jika menguntungkan. Mereka diam ketika narasi manipulatif menguntungkan kekuasaan.
Kita hidup di era di mana arus informasi tidak sekadar deras, tetapi mengalir deras seperti banjir setiap detik. Tidak ada hari tanpa berita, video pendek, unggahan viral, atau narasi yang terus mengalir, menggiring cara kita berpikir tanpa kita sadari.
Fenomena brain washing bukanlah istilah psikologis kuno lagi, melainkan kenyataan kontemporer yang dipicu oleh algoritma—program tak terlihat yang belajar dari klik kita, komentar kita, jempol yang kita angkat, dan video yang kita ulang-ulang.
Mesin ini memetakan preferensi, lalu menyajikan narasi yang memuluskan jalan bagi keyakinan tertentu, bahkan ketika fakta sebenarnya masih dipertanyakan.
Penelitian global menunjukkan bahwa informasi palsu menyebar jauh lebih cepat daripada kebenaran di platform digital.
Menurut temuan yang dipublikasikan UNESCO, hoaks dan konten palsu menyebar enam kali lebih cepat daripada informasi benar melalui jejaring sosial, terutama karena sifat platform yang mengejar keterlibatan emosional dan jangkauan luas.
Narasi yang provokatif, penuh kemarahan atau ketakutan, sering kali lebih cepat masuk ke feed pengguna dibandingkan berita yang faktanya bisa divalidasi.
Namun, ancaman ini tidak hanya soal kecepatan penyebaran, tetapi juga soal kepercayaan publik terhadap media dan informasi.
Survei bersama antara Reuters Institute dan University of Oxford menunjukkan bahwa di Indonesia, media tradisional masih mendapatkan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dibandingkan konten daring, tetapi media sosial tetap menjadi sumber informasi utama bagi puluhan juta warga.
Ini menunjukkan bahwa sekalipun warga menyadari perlunya sumber tepercaya, mereka tetap terperangkap dalam ekosistem digital yang dipenuhi konten tak tervalidasi.
Ketika Hoaks Menjadi Senjata Politik
Ampun bagi siapa pun yang berpikir ini hanya soal meme lucu atau unggahan konyol. Di Indonesia, disinformasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari dinamika politik.
Selama Pemilihan Kepala Daerah 2024 misalnya, laporan lembaga riset menunjukkan bahwa lebih dari sepuluh persen dari hampir setengah juta konten politik di media sosial menyebarkan ujaran kebencian.






