‘Mindfulness Qur’ani’: Meraih Ketenangan Jiwa Lewat Tadabbur Al-Qur’an
Lantas, pasal itu diakhiri dengan Pojok Inspirasi di halaman 221. Ada kedudukan tinggi yang lain, yaitu orang tua diangkat derajatnya karena berkah dari anak-anak mereka.
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh Allah benar-benar mengangkat derajat hamba yang saleh di surga”. Lalu dia berkata, ”Wahai Tuhanku, dari mana ini bagiku?” Allah berfirman, ”Karena permohonan ampun anakmu untukmu” (HR Ahmad).
Uraian di atas terasa sangat indah. Pada awal pembahasan, terkesan yang memiliki peluang mengangkat anak ke posisi yang lebih tinggi di surga hanyalah sang orang tua.
Namun, lewat Pojok Inspirasi, ternyata anak juga memiliki potensi besar dalam mengantar orang tua ke surga dengan posisi yang baik.
Gembira, Bergembiralah!
Sekarang, mari kembali ke bagian awal buku. Pasal pertama berjudul ”Rahmat untuk Alam Semesta” (halaman 8).
Pasal ini dimulai dengan kutipan ayat: “Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturutkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi penolong bagi orang-orang kafir” (QS Al-Qasas [28]: 86). Selain itu, dikutip pula QS Al-Anbiya’ [21]: 107 yang berbunyi: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
Lewat dua ayat tersebut, diterangkan bahwa Al-Qur’an dan keberadaan Muhammad sebagai utusan Allah adalah rahmat bagi semesta alam. Tujuannya adalah agar manusia hidup bahagia.
Hal ini sejalan dengan firman-Nya: “Katakanlah: ’Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan’” (QS Yunus [10]: 58).
Lalu, penulis menyimpulkan hal tersebut dalam sebuah catatan penutup pasal.
”Seorang mukmin, ketika memulai membaca Kitab Allah dengan kedua nama ini (Ar-Rahman dan Ar-Rahim), dan mengetahui bahwa setiap nama dari keduanya menunjukkan sifat rahmat, maka ia memulai membaca dalam keadaan gembira dan tenteram bahwa Dzat yang perkataan-Nya ia baca adalah Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)” (halaman 9).
Yang Hilang Datang
Bacalah pasal ”Surah Al-Fatihah (Pembuka Kitab)” di halaman 12. Kita dapat memperhatikan makna dari ayat QS Al-Fatihah [1]: 4, yaitu bahwa Allah “Yang menguasai di Hari Pembalasan”.
Simaklah telaah mendalam dari sang penulis berikut ini.
”Ketika engkau mengetahui bahwa pada Hari Kiamat tidak ada seorang pun yang memiliki tempat berlindung kecuali Allah, maka engkau tidak akan peduli dengan semua yang luput darimu dari puing-puing dunia ini. Engkau tidak akan menyusahkan dirimu sendiri, tidak menyesal atas segala kezaliman yang menimpamu di dunia; karena engkau sedang menantikan hari di mana tidak ada pemilik selain Allah. Pada hari itu, akan diberikan kepadamu setiap hak yang hilang darimu di dunia secara berlipat ganda karena kesabaran dan penantianmu” (halaman 14).
Hal yang Niscaya
Perhatikan pula pasal ”Yakin kepada Mati, Membuatmu Melihat Dunia Menjadi Murah” (halaman 44). Pembahasan dimulai dengan mengutip QS Ali ’Imran [3]: 185, bahwa “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…”
Lalu, dijelaskan bahwa kita tidak akan mati sebelum hari yang ditetapkan oleh Allah. Pemahaman hal itu akan memperkuat jiwa di hadapan orang-orang yang menakut-nakuti kita dari kematian dan penyebabnya.
Dengan keyakinan tersebut, sikap kita bisa menjadi lebih lembut saat mengingat kematian.
Jenis pandangan terhadap kematian seperti di atas dapat disebut sebagai sikap berdamai dengan kematian. Cara pandang ini merupakan milik orang-orang yang beriman.
Mereka melihat dan mengingat kematian sebagai sebab kecintaan kepada-Nya, bukan sebuah keburukan. Kematian adalah sesuatu yang niscaya dan tidak bisa dihindari, sehingga manusia tidak seharusnya menyia-nyiakan umur atau usaha (halaman 44-45).






