‘Mindfulness Qur’ani’: Meraih Ketenangan Jiwa Lewat Tadabbur Al-Qur’an
Tiga Contoh
Buku ini memuat banyak sekali pasal pilihan. Berikut adalah tiga judul di antaranya yang dapat menjadi gambaran bagi pembaca.
Pertama, “Boleh Jadi Seorang Tidak Dikenal di Bumi, Namun Masyhur di Langit” (halaman 19). Pasal ini dibuka dengan ayat QS Al-Baqarah [2]: 152 yang berbunyi: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu…”
Oleh karena itu, Bandar memberikan penegasan di halaman 20.
“Bersemangatlah dalam mengingat Allah (berdzikir) dan janganlah bersedih jika orang-orang terdekat mengabaikanmu atau jika orang-orang yang dengki tidak menyebut namamu dengan kebaikan, selama namamu terus disebut-sebut di Al-Mala’ al-A’la (Majelis Tertinggi / para malaikat di langit)”.
Kedua, “Yakin Allah Bersamamu, Merupakan Ketenangan Hati” (halaman 64). Pembahasan dimulai dengan ayat ini: “…’Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’…” (QS At-Taubah [9]: 40).
Adapun yang dimaksud dengan perkataan “jangan berduka cita” bukanlah berarti agar kesedihan tidak menghampiri kita sama sekali. Hal itu tidak mungkin terjadi karena kesedihan akan datang tanpa bisa kita tolak.
Oleh karena itu, kita berusaha meringankan beban kesedihan dengan tidak terbawa suasana. Kita harus mengusir kesedihan tersebut dengan mengingat bahwa Allah selalu membersamai hamba-Nya (halaman 65).
Ketiga, “Jalan Keluar dari Kesempitan” (halaman 234). Pasal ini dimulai dari ayat QS At-Talaq [65]: 2 yang berbunyi: “…Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar”.
Mengenai hal ini, penulis memberikan sebuah pencerahan yang berharga.
”Jalan keluar bukanlah pada apa yang engkau usulkan dan lihat, melainkan pada apa yang Allah tetapkan dan pilih untukmu” (halaman 235).
Lalu, bagian tersebut ditutup dengan Pojok Inspirasi. Dikisahkan bahwa Rasulullah sering mengulang-ulang ayat tersebut dan pernah bersabda: ”Wahai Abu Dzar, seandainya manusia menjadikan ayat ini sebagai petunjuk, niscaya cukuplah bagi mereka” (halaman 235).
Tadabur dan Sentuhan Hati
Buku ini merupakan sebuah karya terjemahan. Di dalam Pengantar Penerbit, disebutkan bahwa salah satu kehebatan orang-orang saleh terdahulu adalah mereka merasa bahwa ayat Al-Qur’an turun untuk diri mereka sendiri.
Ayat-ayat tersebut terasa sangat terarah ke wilayah pribadi. Setiap ayat yang dibaca membuat mereka merasakan bahwa Allah sedang berbicara langsung kepada mereka.
Buku ini merupakan kumpulan ayat-ayat pilihan dalam Al-Qur’an yang kemudian dijelaskan oleh penulis dengan cara yang ringan. Pendekatan yang digunakan adalah melalui metode tadabur dan sentuhan hati.
Hasilnya, kita yang membacanya akan dibuat terpesona dengan kedalaman makna ayat-ayat Al-Qur’an (halaman vi).






