OPINI

Muktamar NU dan Kemanusiaan Global

Pertama, terjadi pergeseran orientasi dari ukhuwah wathaniyah menuju ukhuwah insaniyah. Muktamar NU 2026 menandai perluasan lingkaran kekerabatan dari ikatan kebangsaan menuju ikatan kemanusiaan global. Global Humanitarian Overview 2026 mencatat lembaga kemanusiaan membutuhkan 33 miliar dolar AS untuk membantu 135 juta orang terdampak krisis.

NU memahami bahwa upaya merawat Indonesia secara optimal tidak mungkin dilakukan jika dunia di sekitarnya berada dalam krisis. Karena itulah, narasi perjuangan NU bergeser menuju ukhuwah insaniyah.

Kedua, krisis iklim dan fikih ekologi sebagai respons peradaban. Laporan Internal Displacement Monitoring Centre 2026 menyebutkan setiap tahun sedikitnya 27,5 juta orang mengungsi akibat bencana iklim. Dalam situasi ini, NU dapat mengusung gagasan fikih ekologi ke forum global.

Praktik ramah lingkungan (greening Islam) sudah mulai diterapkan di sejumlah pesantren di Indonesia. Studi PPIM UIN Syarif Hidayatullah menemukan bahwa dari 361 pesantren yang diteliti, sebanyak 269 di antaranya telah memiliki program lingkungan.

Ketiga, kolaborasi global dan diplomasi kemanusiaan. NU telah menjelma menjadi aktor transnasional yang diakui di panggung internasional. Tradisionalitas pesantren bukanlah kekurangan, melainkan kekuatan untuk berkontribusi secara khas dan luas.

Inisiatif strategis NU dalam forum seperti R20, ASEAN Intercultural and Interreligious Dialogue Conference, dan Humanitarian Islam menunjukkan kapasitasnya dalam memperkuat moderasi beragama. Kerja sama dengan World Evangelical Alliance (WEA) dan Temasek Foundation juga memperluas jaringan diplomasi ini.

Saat ini dunia tengah retak oleh perang, krisis iklim, dan disinformasi. Di tengah keprihatinan itu, NU membawa pesan optimistis bahwa Islam dengan tradisi tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal memiliki solusi yang relevan untuk ditawarkan kepada dunia.[]

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button