IBRAH

Nabi Ismail alaihis salam dan Ketaatan di Era Modern

Maka hakikat dari ibadah kurban adalah proses mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui pengorbanan dan ketakwaan yang tulus.

Ibadah kurban mengajarkan manusia untuk menyembelih sifat-sifat buruk dalam dirinya, seperti egoisme, kesombongan, rasa malas, dan kecintaan yang berlebihan pada duniawi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan hal ini dalam Al-Qur’an surah Al-Hajj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian…” (QS Al-Hajj: 37).

Karena itu, esensi utama kurban bukan terletak pada kuantitas daging and kemeriahan acaranya, melainkan pada ketakwaan yang lahir dari hati yang tunduk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di era modern yang penuh tantangan ini, karakter ketaatan tidak akan pernah hadir secara instan. Ia dibangun di atas fondasi iman yang kuat serta didukung oleh lingkungan yang kondusif.

Ada beberapa langkah nyata yang dapat dilakukan oleh generasi muda untuk menumbuhkan kembali semangat ketaatan tersebut.

Pertama, menguatkan akidah dan berhenti secara berlebihan dalam mempertanyakan perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seorang Muslim yang sejati harus memiliki sikap sami’na wa atha’na (kami dengar dan kami taat) terhadap hukum syariat.

Kedua, bersungguh-sungguh menuntut ilmu syariat agar memahami bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin disembah, bukan sekadar ikut-ikutan arus lingkungan.

Ketiga, melakukan aktivitas dakwah kreatif dengan menyebarkan nilai-nilai kebaikan melalui potensi dan media digital yang dimiliki.

Keempat, membangun lingkungan pertemanan yang konsisten mendukung ketaatan. Lingkungan yang saleh akan sangat membantu seseorang untuk tetap istiqomah (teguh pendirian) dan tidak merasa sendirian dalam menjaga iman.

Pada akhirnya, ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu kesatuan utuh dengan ketaatan kepada Rasul-Nya.

Ketaatan ini juga menjadi fondasi utama bagi lahirnya generasi penjaga diin (agama) yang tangguh, bermartabat, serta kuat secara spiritual. Nabi Ismail alaihis salam telah memberikan teladan nyata bahwa taat itu bukan menunggu siap, bukan pula menunggu kondisi terasa nyaman. Taat adalah keberanian sikap untuk langsung tunduk ketika perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala datang menyapa.

Karena itu, tidak ada alasan lagi bagi generasi muda untuk terus menunda-nunda ketaatan. Saatnya generasi muda menghentikan segala keraguan dan mulai kembali menerapkan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala secara total dengan prinsip hidup: taat syariat, tanpa nanti dan tanpa tapi.[]

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button