Nabi Ismail alaihis salam dan Ketaatan di Era Modern
Banyak remaja terjebak dalam budaya kontan haram dan healing no meaning (pemulihan tanpa makna), yaitu mencari ketenangan semu melalui hiburan tanpa arah.
Ada beberapa akar masalah utama yang menyebabkan fenomena miris ini terjadi di tengah masyarakat.
Pertama, arus lingkungan dan media sosial yang kuat telah menjadikan standar kebenaran di mata remaja bersifat relatif.
Banyak remaja hari ini lebih takut kehilangan pengikut (followers) di media sosial daripada kehilangan kedekatan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kedua, lemahnya pemahaman terhadap syariat Islam secara menyeluruh. Tanpa bekal ilmu, ketaatan akan selalu dianggap sebagai sebuah beban yang memberatkan.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan manusia untuk hanya menyembah-Nya dan berbuat baik kepada orang tua sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surah Al-Isra ayat 23:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (QS Al-Isra: 23).
Pemahaman agama yang lemah inilah yang membuat para remaja begitu mudah terseret pada gaya hidup bebas yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Ketiga, cengkeraman sistem kapitalisme yang menanamkan cara pandang liberal dan konsumtif secara masif.
Sistem sekuler ini membentuk pola pikir bahwa kebahagiaan tertinggi manusia terletak pada pemuasan materi dan hawa nafsu.
Akibatnya, lahirlah generasi yang rapuh, mudah malas, mudah mengalami overthinking (berpikir berlebihan), dan mudah merasa hampa ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Ketika stres melanda, solusi yang mereka cari hanyalah sekadar healing (pemulihan fisik), padahal yang sebenarnya dibutuhkan adalah kembali kepada fitrah ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Dampak kerusakan sistemik ini juga tampak dalam perayaan Idul Adha yang sudah bertahun-tahun berjalan di tengah umat.
Tidak sedikit masyarakat yang menjadikannya sekadar ritual perayaan tahunan, pesta makan sate, atau ajang memamerkan hewan kurbannya di media sosial.
Padahal, ibadah kurban memiliki makna spiritual yang jauh lebih dalam daripada hal tersebut. Secara bahasa, kurban berarti mendekat.






