Nak, Ayah Tak Pulang bukan karena Tak Sayang
“Ayah kapan pulang?”
“Kenapa ayah kerja terus?”
“Katanya ayah mau main petak umpet sama aku?”
Rengekan serupa mungkin tak asing didengar oleh para ibu. Sang anak mulai menagih kehadiran ayah karena terlalu padat aktivitas di luar rumah. Padahal, dari sudut pandang ayah, yang dilakukannya bukan bermain-main, melainkan sedang mengupayakan kecukupan nafkah.
Namun, apakah nafkah keluarga terkotak pada materi saja? Tidak. Ayah punya tugas memandu keluarga menuju surga dengan kurikulum pendidikan, sarana prasarana yang memadai, serta ketenangan dan kenyamanan. Jangan sampai ayah hanya terpacu pada pemenuhan kebutuhan materi, tapi abai pada kebutuhan akal, dan emosi anak. Alih-alih menjadi generasi terbaik, anak bisa menjadi fatherless generation. Meski ayah ada, tapi kehadirannya tak terasa.
Islam Atasi Masalah Fatherless Generation
Jumlah anak berpotensi fatherless di Indonesia 2024 mencapai 15,9 juta jiwa. Angka ini setara dengan 20,1 persen dari total 79,4 juta anak berusia di bawah 18 tahun di seluruh Indonesia. (Dataloka.id, 14/10/245)
Ini bukan angka yang sedikit dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab, anak yang fatherless berpotensi menjadi anak yang tidak percaya diri dan bingung. Inikah yang kita harapkan untuk masa depan bangsa?
Dalam menyelesaikan masalah ini, Islam hadir bukan hanya sebagai nasihat bagi para ayah agar begini dan begitu. Islam punya mekanisme praktis agar ayah mampu memenuhi peran domestik di keluarga. Dalam peradaban Islam, negara punya andil menjaga keseimbangan amanah para ayah.
Di masa kekhilafahan, pasar dan tempat kerja diatur agar dekat dengan pemukiman. Waktu kerja diatur agar tidak menzalimi fisik para ayah, maupun keluarga. Khalifah Umar bin Khaththab pernah menegur pegawai yang lalai terhadap keluarga karena terlalu sibuk mengurus urusan negara.
Bahkan jika dalam kondisi paling ekstrim sekalipun, misal sang ayah meninggal dunia, peran ayah di keluarga dalam peradaban Islam tidak hilang. Islam memiliki konsep perwalian yang bisa meneruskan peran ayah. Kakek, paman, atau kerabat laki-laki dari pihak ayah akan menjadi wali. Kalau tak ada juga, maka negara mengambil alih. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sultan adalah wali bagi orang yang tidak memiliki wali.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Anak tak pernah benar-benar sendiri. Negara dalam Islam, memastikan ada figur pelindung yang menuntunnya. Baik dari keluarga, masyarakat, maupun perwakilan negara. Ini luar biasa, karena Islam bukan cuma bicara tanggung jawab individu, tapi juga tanggung jawab penguasa.
Saat ini, mengapa fatherless generation seolah menjadi fakta yang tak terelakkan hari demi hari? Tak bisa tidak, kita harus mengakui bahwa penyebab peran ayah tertawan adalah karena penerapan sistem kapitalisme sekularisme.
Ayah hanya menjadi mesin pencetak uang, bukan lagi rumah tempat keluarga pulang. Bagaimana tidak, kebutuhan hidup melambung tinggi. Rumah tinggal, mahal. Harga makanan pokok selangit. Belum lagi biaya pendidikan yang astaghfirullahalazim. Semua ini tanggungan rakyat. Sebab dalam sistem Kapitalisme rakyat dipaksa mandiri.
Sedangkan, dalam sistem Islam negara meringankan pundak rakyat. Biaya pendidikan ditanggung negara. Bahan pangan pokok dipastikan distribusi merata agar tidak ada ketimpangan biaya yang tinggi. Listrik, air, BBM sebagai kebutuhan dasar rakyat, difasilitasi negara dalam pemenuhannya. Rakyat hanya dibebani biaya operasional, bukan dijadikan mangsa pasar yang cuan bagi para oligarki seperti hari ini.
Jadi, Nak, sebenarnya ayah sangat ingin pulang. Tapi, dagangan ayah belum laku satu pun. Tak banyak penumpang yang membutuhkan jasa ayahmu sejak pagi tadi. Bagaimana mungkin ayah pulang dengan tangan kosong, sedangkan suara perutmu terdengar sejauh mana pun kaki ayah melangkah?
Ayah sungguh berharap, indahnya penerapan Islam untuk membantu pundak ayah lebih ringan menyajikan semangkuk nasi hangat untukmu. Kemudian kita bermain bersama lagi, ya.[]
Keni Rahayu, S.Pd., Muslimah Influencer, Penulis Buku.






