Nilai Iman Sangat Mahal
Iman adalah anugerah Allah termahal, lebih berharga daripada emas sepenuh bumi, karena menjadi kunci keselamatan akhirat dan keridhaan Allah Swt. Iman tidak dapat dibeli dan hanya diberikan kepada hamba yang dipilih. Hidayah iman dan Islam adalah nikmat terbesar, bahkan lebih berharga dari dunia dan seisinya.
Orang kafir yang mati dalam kekafirannya tidak akan bisa menebus diri dengan emas sepenuh bumi sebagaimana firman Allah Swt:
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَࣖ ٩١
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur dan mati sebagai orang-orang kafir tidak akan diterima (tebusan) dari seseorang di antara mereka sekalipun (berupa) emas sepenuh bumi, sekiranya dia hendak menebus diri dengannya. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang pedih dan tidak ada penolong bagi mereka.” (QS. Ali Imran 91)
Apa itu Iman?
Secara bahasa iman itu berasal dari kata amana yang berarti percaya atau yakin Dalam Islam, iman adalah keyakinan teguh dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan melalui amal perbuatan. Iman mencakup rukun iman, dinamis (naik-turun), serta menjadi dasar perilaku yang menuntun pada ketenangan batin dan amal saleh.
Karakteristik Iman itu dinamis, dapat bertambah dan berkurang. Iman meningkat dengan ketaatan kepada Allah dan menurun dengan perbuatan maksiat.
Prasyarat Amal Manusia
Tanpa iman, sebanyak dan sebaik apapun tidak akan mendapat pahala dari Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya:
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ ۢ بِقِيْعَةٍ يَّحْسَبُهُ الظَّمْاٰنُ مَاۤءًۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءَهٗ لَمْ يَجِدْهُ شَيْـًٔا .
“Orang-orang yang kufur, amal perbuatan mereka seperti fatamorgana di tanah yang datar. Orang-orang yang dahaga menyangkanya air, hingga apabila ia mendatanginya, ia tidak menjumpai apa pun. (QS An-Nur: 39).
Subhanallah, amaliyah orang kafir itu laksana fatamorgana ditanah datar. Dari kejauhan dipandang ada airnya tapi setelah didekati tak ada apa-apanya alias kosong. Ini merupakan tamsil orang kafir. Beramal tapi tak ada nilai pahalanya karena tak beriman.
Benteng Kemaksiatan
Jika seseorang imannya kokoh dan mantap insyaallah akan menjadi benteng dari kemaksiatan, sebagaimana hadits ini:
قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ السَّارِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وزاد في رواية: وَلَا يَنْتَهِبُ نُهْبَةً ذَاتَ شَرَفٍ يَرْفَعُ النَّاسُ إِلَيْهِ أَبْصَارَهُمْ فِيهَا حِينَ يَنْتَهِبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi Saw. Bersabda: Tidak akan berzina seorang pelacur di waktu berzina jika ia sedang beriman, dan tidak akan minum khamr, di waktu minum jika ia sedang beriman, dan tidak akan mencuri, di waktu mencuri jika ia sedang beriman. Di lain riwayat: Dan tidak akan merampas rampasan yang berharga sehingga orang-orang membelalakkan mata kepadanya, ketika merampas jika ia sedang beriman.” (Bukhari, Muslim).
Insyaallah jika seseorang imannya masih lengket kokoh, tidak luntur tidak akan berbuat maksiat. Tapi sebaliknya jika imannya luntur, lemah, akan rentan terjebak dalam kemaksiatan dan kekufuran karena tidak ada benteng penangkalnya.






