AKIDAH

Nilai Iman Sangat Mahal

Sesajen yang mereka sajikan itu biasannya berupa makanan tertentu dan atau kepala kerbau yang dipersembahkan untuk laut, gunung atau untuk pohon yang dianggap kramat.

Ritual sesajen itu jelas tidak dikenal dalam Islam, tidak ada perintah atau anjuran dalam Al-Qur’an maupun Hadits.

Kalaulah dalam sesajian itu diniati makanannya untuk Allah juga salah, alias bid’ah. Karena Allah tidak pernah minta rezeki dan makan kepada makhlukNya, justru Allahlah Yang Memberi rezeki dan makan kepada makhlukNya. Firman Allah Swt:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُون

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaku. Tidaklah Aku menginginkan rezeki dari mereka dan Aku tidak mengharapkan mereka memberi makan kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat 56-57)

Kalau ritual sesajen itu dipersembahkan untuk danyang-danyang, jin, setan atau penunggu laut, gunung atau penunggu pohon jelas hal ini perbuatan syirik. Karena beribadah dalam Islam itu hanya kepada Allah Swt. Kita umat Islam setiap shalat baca ‘iyyaka na’budu waiyyaka nasta’iin’– hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami mohon pertolongan.

Juga sering kita jumpai adanya ritual ibadah yang justru kontradiksi dengan akidah Islam tapi pelakunya tidak menyadari bahwa aktivitasnya itu merusak iman seperti ziarah kubur, ini memang dianjurkan oleh nabi tapi karena kurang memahaminya dalam praktiknya ada sebagian masyarakat justru berdoa kepada orang atau wali yang dianggap punya keramat. Atau bertawassul dengan orang yang sudah wafat.

Orang yang berdoa kepada penghuni kubur, meskipun dia berkeyakinan bahwa yang nantinya mengabulkan doa adalah Allah, sejatinya orang ini telah terjebak dalam kesyirikan. Karena perbuatan ini berarti memberikan bentuk peribadatan kepada selain Allah.

Inilah model kesyirikan masyarakat jahiliyah, sebagaimana yang Allah ceritakan:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (QS. Az-Zumar: 3).

Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya mengatakan:

فإن غالب الأمم كانت مقرة بالصانع ولكن تعبد معه غيره من الوسائط التي بظنونها تنفعهم أو تقربهم من الله زلفى

“Mayoritas umat manusia yang ada mengakui bahwa Allah adalah pencipta alam semesta, namun mereka menyembah sesembahan lain selain menyembah Allah juga sebagai perantara, yang menurut sangkaan mereka bisa memberikan manfaat untuk mereka, atau untuk mendekatkan diri kepada Allah sedekat-dekatnya” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/482).

Adapun berdoa meminta hajat kepada mayit, ini jelas merupakan kesyirikan. Allah ta’ala berfirman:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّـهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu berdoa kepada apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim” (QS. Yunus: 106).

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button