Nilai Iman Sangat Mahal
Seperti contoh yang paling sering terjadi adanya pejabat yang korupsi uang negara. Padahal dia orang kaya milyaran rupiah hartanya tapi masih tetap korupsi. Penyabab yang paling dominan adalah karena imannya keropos sudah luntur, keyakinan dalam hatinya tentang ancaman dosa korupsi sudah luntur.
Inilah fungsi iman dalam kehidupan kita. Jika kuat imannya semangat dan istiqamah dalam beramal shaleh Tapi jika imannya lemah malas beramal dan rentan bermaksiat melanggar syariat Islam.
Penentu Masuk Surga dan Neraka
Bentuk iman yang utama adalah tauhid yakni meng-Esakan Allah Swt. Karenanya, siapapun yang wafat bertauhid yakni tidak musyrik maka dia masuk surga. Dan sebaliknya, wafat dalam musyrik pasti masuk neraka. Ini hadisnya ;
عن جابر رضي الله عنه قَالَ: جاء أعرابي إِلَى النَّبيّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُول الله، مَا الموجِبَتَانِ؟ قَالَ: ((مَنْ مَاتَ لا يُشْرِكُ بالله شَيئًا دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّار)). رواه مسلم.
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Seorang Arab Badui datang kepada Nabi shalallahu alaihi wa salam lalu berkata: “Wahai Rasulullah, apakah dua perkara yang mewajibkan itu?” Beliau shalallahu alahi wasallam bersabda: “Barang siapa meninggal dunia dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Dan barang siapa meninggal dunia dalam keadaan menyekutukan Allah dengan sesuatu, maka ia akan masuk neraka.” (HR. Muslim).
Hadits ini menegaskan bahwa siapa pun yang wafat dalam keadaan bertauhid (tidak berbuat syirik), maka ia memiliki jaminan masuk surga. Bisa langsung tanpa transit dulu di neraka. Bisa jadi setelah disucikan (ditampakkan dosanya) terlebih dahulu alias transit dulu di neraka, bila memiliki dosa besar yang belum ditaubati dengan sungguh-sungguh.
Waspadai Kesyirikan
Kalau ada orang cerita syirik atau kesyirikan, janganlah kita selalu terbayang zaman jahiliah dulu saat Abu Jahal dan kaum kafir Quraisy menyembah berhala. Sebab kalau kita perhatikan zaman now pun tidak sedikit orang-orang yang perilakunya ‘nyerempet-nyerempet’ atau bahkan terjebak dalam lembah hitam kesyirikan.
Sebagaimana yang Allah Swt telah informasikan kepada hambaNya yang termaktub dalam Al-Qur’an:
وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُم بِاللَّهِ إِلَّا وَهُم مُّشْرِكُونَ”
“Dan sebagian besar manusia tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan-Nya (dengan sembahan-sembahan lain)”. [QS. Yûsuf: 106]
Karena informasinya dari Allah Swt, tak ada yang bisa membantahnya bahwa syirik itu memang ada dan bahkan ada disekitar kita. Tidak sedikit manusia yang karena mengikuti tradisi atau adat istiadat nenek moyang mereka terjebak dalam kesyirikan.
Aktivitas yang rawan dapat merusak tauhid alias kesyirikan adalah antara lain tradisi mengikuti leluhur yang keliru.
Yaitu antara lain membuat ‘sesaji’ atau sajen yang digunakan sebagai ‘tumbal’ seperti saat bangun rumah pakai sesajen. Saat akan panen padi buat sesajen. Bersyukur buat sesajen dalam ritual ‘sedekah bumi’ yang dipersembahkan untuk ‘danyang-danyang’ penunggu bumi. Na’udzubillah mindzalik.






