SIRAH NABAWIYAH

Pelajaran dari Peristiwa Badar

Nabi saw. mengirimkan tim patroli untuk mengumpulkan informasi sebelum peperangan terjadi. Ketiga, tujuan kedua kubu adalah hal duniawi yang terpisah.

Umat Islam ingin memastikan kebebasan berpikir, beribadah, dan berekspresi bagi semua orang. Umat Islam telah mengalami banyak penderitaan sehingga saat itu merupakan waktunya bagi kaum Quraisy untuk diberi pelajaran agar saling menghormati hak-hak dasar manusia.

Sedangkan tujuan kaum Quraisy hanya sebatas apa yang digariskan Abu Jahal, yakni membunuh Nabi Muhammad saw. dan berpesta. Abu Jahal berkata, “Kami akan berbaris ke Badar dan tinggal di sana selama tiga hari. Kami akan menyembelih unta untuk dimakan, mengadakan pesta besar, dan membuatnya terbuka bagi semua orang untuk datang dan makan. Kami akan minum banyak anggur dan akan dihibur oleh penyanyi dan penari. Jika hal ini diketahui, semua suku Arab akan kagum kepada kami selama sisa waktu.” Ini adalah tujuan picik yang didorong oleh kesombongan.

Keempat, semangat di kalangan umat Islam. Peralatan yang canggih dan kekuatan numerik tidak bisa memenangkan peperangan jika semangat tidak ada.

Hal ini berlaku untuk semua peperangan, baik di zaman dahulu maupun zaman modern seperti sekarang.

Ujian Pasbakemenangan

Perang Badar merupakan salah satu bukti kemahakuasaan Allah Swt. Sang Pencipta menurunkan para malaikat-Nya sebagai pasukan tambahan dalam menolong kaum muslimin di Lembah Badar.

Semangat perang Badar ini menunjukkan bahwa kelompok perang yang kecil dapat mengalahkan kelompok yang besar berkat pertolongan Allah Swt. Menyusul kemenangan kaum muslimin di Badar, muncullah berbagai permasalahan dan ujian yang harus dihadapi, yaitu konspirasi terhadap kehidupan Nabi saw., perselisihan di seputar rampasan perang, dan masalah tawanan.

Konspirasi Terhadap Kehidupan Nabi Saw

Kegilaan kaum kafir di Lembah Badar semakin menjadi-jadi ketika kaum muslimin berhasil membunuh 70 tokoh, menawan 70 orang, dan mengambil sejumlah besar harta mereka sebagai rampasan. Kekalahan tersebut selalu menghantui pikiran mereka sehingga mereka berpikir untuk melakukan balas dendam.

Shafwan bin Umayyah bertemu dengan Umair bin Wahab Al-Jumahi di sisi Ka’bah untuk membicarakan kepahitan yang dirasakan pascaperang Badar berikut akibatnya. Umair berkata, “Kalau saja aku tidak memiliki tanggungan utang yang harus aku bayar dan keluarga yang aku khawatirkan, niscaya aku sudah pergi untuk membunuh Muhammad.”

Shafwan berkata kepadanya, “Utang dan keluargamu aku tanggung.” Umair pun berpesan kepadanya, “Kalau begitu rahasiakanlah kesepakatan kita ini.”

Kemudian Umair mengambil pedangnya yang telah diasah serta dilumuri dengan racun lalu berangkat ke Madinah. Setibanya di Madinah, ia menderumkan untanya di depan pintu masjid sambil menghunus pedangnya.

Melihat hal itu, Umar bin Khaththab ra. berkata, “Anjing ini adalah musuh Allah, Umair bin Wahab. Demi Allah, dia tidak datang kecuali untuk kejahatan. Dialah yang memprovokasi kita dan menerkam kita di Badar.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya
Back to top button