Pelajaran dari Peristiwa Badar
Oleh: Imam Nur Suharno, Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat
Setiap umat memiliki sejarah yang dibanggakan. Sejarahnya ditulis dengan tinta emas oleh para tokohnya secara langsung dengan penuh perjuangan dan pengorbanan.
Karena itu, generasi pelanjut berkewajiban memelihara sejarah dengan segala peristiwa dan pelajarannya agar menjadi pendorong untuk melanjutkan perjuangan para pendahulunya. Peristiwa perang Badar telah disinggung dalam Al-Qur’an, misalnya surah Ali ‘Imran.
“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu dalam perang Badar, padahal kamu ketika itu adalah orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 123).
Sebab Terjadinya Peristiwa Badar
Salah satu peristiwa besar dalam sejarah awal umat Islam adalah peristiwa perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadan 2 H. Inilah peperangan pertama yang dilakukan kaum muslimin melawan kafir Quraisy Makkah setelah hijrah ke Madinah.
Pasukan umat Islam sekitar 313 orang, 8 pedang, 6 baju perang, 2 ekor kuda, dan 70 ekor unta. Sedangkan kaum Quraisy membawa 1.000 orang pasukan, 600 persenjataan lengkap, 700 ekor unta, dan 300 ekor kuda.
Badar adalah nama suatu tempat yang terletak di antara Makkah dan Madinah yang memiliki sumber mata air. Tempat ini menjadi lokasi pemberhentian dan perlintasan kendaraan, baik yang menuju Makkah maupun yang kembali ke Madinah.
Jaraknya sekitar 148 km dari Madinah. Di lokasi inilah terjadi peristiwa perang Badar. Ada beberapa sebab terjadinya peristiwa perang Badar.
Pertama, kebencian Abu Jahal. Nabi saw. lahir dari keluarga Bani Hasyim dan suku Quraisy.
Dalam dakwahnya, Nabi saw. mendapat perlindungan dari pamannya, Abu Thalib, yang merupakan pemimpin Bani Hasyim dan suku Quraisy.
Setelah Abu Thalib meninggal, Bani Hasyim dipimpin oleh Amr bin Hisyam (Abu Jahal) yang merupakan salah satu musuh Nabi saw. Kemunculan dakwah Nabi saw. telah mengancam posisi Abu Jahal sebagai penguasa Makkah.
Sisa kaum Quraisy pun melihat kaum muslim sebagai penjahat yang mengancam lingkungan dan kewibawaan mereka. Kedua, pengusiran umat Islam dari Makkah.
Kaum muslimin selalu mendapatkan teror dan pengusiran oleh kaum musyrikin. Sering kali umat Islam ditindas dan dizalimi, bahkan rumah dan harta benda mereka dirampas.
Ketiga, penindasan terhadap umat Islam. Meski sudah hijrah ke Madinah, kaum kafir Quraisy masih suka mengganggu dan menindas umat Islam.
Kaum muslimin yang berdagang dizalimi, disiksa, dan barang dagangannya dirampas. Keempat, memberi pelajaran kepada kaum Quraisy.
Sebagai balasan atas kekejaman dan kezaliman yang dilakukan kaum kafir Quraisy, Nabi saw. mempersiapkan umat Islam untuk memberi pelajaran kepada kafilah dagang Quraisy.






