Pemimpin Itu Makan yang Terakhir
Di dunia kepemimpinan Barat, terdapat sebuah pepatah yang sederhana namun dalam maknanya: “A leader eats last”—pemimpin makan paling akhir. Pepatah ini bukan soal urutan menyantap hidangan, melainkan simbol pengorbanan, tanggung jawab, dan keberpihakan.
Seorang pemimpin sejati memastikan orang-orang yang dipimpinnya aman, tercukupi, dan terlindungi, bahkan bila itu berarti ia harus menunda kenyamanan dirinya sendiri.
Pepatah ini menjadi relevan di mana pun, termasuk di Indonesia, ketika kekuasaan sering kali justru diidentikkan dengan fasilitas, kemewahan, dan keistimewaan. Padahal, sejarah—baik modern maupun Islam—menunjukkan bahwa kebesaran seorang pemimpin diukur dari apa yang ia korbankan, bukan dari apa yang ia kumpulkan.
Dalam buku “Leaders Eat Last”, Simon Sinek menjelaskan bahwa pemimpin sejati menciptakan “lingkaran aman” bagi rakyat atau bawahannya. Mereka mengambil risiko lebih dulu, menanggung kesulitan lebih awal, dan menerima konsekuensi paling berat. Filosofi ini sejatinya sejalan dengan nilai-nilai Islam: kekuasaan adalah amanah, bukan hadiah.
Mohammad Hatta, wakil presiden pertama, mencerminkan prinsip “makan terakhir”. Ia wafat tanpa meninggalkan kekayaan berarti. Sepatu kesayangannya yang telah bertahun-tahun rusak tidak pernah ia ganti, karena ia merasa tidak pantas hidup mewah di tengah rakyat yang miskin.
Mohammad Natsir, tokoh besar Islam menunjukkan kesederhaaan kepemimpinannya. Ketika menjabat sebagai Menteri Penerangan, jas yang dipakaianya tambalan, sehingga anak buahnya bareng-bareng membelikan jas baru untuknya. Selain itu, Natsir juga tidak mau aji mumpung memanfaatkan kendaraan milik negara. Begitu ia selesai jadi menteri, kendaraan dinas itu segera dikembalikannya ke negara.
Tjokroaminoto, guru tokoh-tokoh bangsa, seringkali kalau bepergian membawa kasur lipat sendiri. Ketika Natsir bertanya kepadanya untuk apa ia berat-berat membawa barang itu, ia menyatakan bahwa dengan membawa kasur itu ia bisa tidur dimana saja dan tidak memberatkan tuan rumah.
Agus Salim, tokoh diplomat ulung Indonesia juga Bahagia dengan kehidupan kesederhanaannya. Meski ia berkali-kali jadi pejabat, ia tidak punya rumah sendiri. Ia dan keluarganya seringkali mengontrak rumah dan pindah-pindah rumah karena itu.
Rasulullah Muhammad saw adalah teladan tertinggi. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa beliau sering menahan lapar berhari-hari. Saat perang Khandaq, Rasulullah menggali parit bersama para sahabat dalam kondisi perut terikat batu karena lapar. Ketika makanan datang, beliau memastikan para sahabat makan lebih dulu.
Abu Bakar Ash-Shiddiq, saat menjadi khalifah, tetap berdagang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, hingga para sahabat memintanya mengambil gaji sekadarnya dari baitul mal. Bahkan menjelang wafat, ia meminta keluarganya mengembalikan harta negara yang pernah ia gunakan.
Umar bin Khattab adalah simbol paling kuat. Ia berkeliling malam hari memeriksa keadaan rakyat. Ketika mendapati seorang ibu memasak batu untuk menenangkan anaknya yang kelaparan, Umar menangis, memanggul gandum sendiri dari baitul mal, dan berkata, “Bagaimana aku layak disebut pemimpin jika masih ada rakyatku yang lapar?” Ia pernah menolak makan daging jika rakyat Madinah belum mampu membelinya.
Imam Al-Ghazali menyatakan, “Kekuasaan adalah ujian paling berat. Barang siapa mencintainya, niscaya binasa.” Ibnu Taimiyah menegaskan,“Tujuan kepemimpinan adalah menegakkan keadilan dan menghilangkan kezaliman, bukan mencari kemuliaan diri.”





