Penutupan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Lonjakan Harga Minyak
Para konsumen diperkirakan harus membayar harga lebih tinggi, tetapi produsen AS bisa diuntungkan, kata para analis.
“Ide bahwa mereka bisa mempertahankan penutupan jangka panjang selat itu sangat kecil kemungkinannya,” tambahnya. “Saya lebih khawatir pada rantai pasok regional.”
Meski demikian, sebagian besar operator komersial, perusahaan minyak besar, dan perusahaan asuransi secara efektif telah menarik diri dari koridor tersebut, menurut Kpler. Premi asuransi sudah mencapai level tertinggi dalam enam tahun bahkan sebelum perang pecah.
Rachel Ziemba, peneliti senior di Center for a New American Security, mengatakan terjadi eskalasi tekanan terhadap infrastruktur energi di Teluk, dan Qatar secara preventif menghentikan produksi LNG.
“Dengan kapal tanker enggan masuk ke Teluk, itu mengirim pesan tentang apa yang dipertaruhkan,” katanya.
AS tidak kebal
Iran telah meningkatkan ekspor minyak ke level tertinggi dalam beberapa tahun pada Februari sebagai antisipasi terhadap serangan AS-Israel, kata Kpler.
Negara-negara Teluk juga mempercepat pengiriman pasokan minyak mereka, membantu meredam gangguan pasokan dalam jangka pendek, kata Ziemba.
Sebagian besar minyak mentah yang dikirim melalui Selat Hormuz menuju Asia, dengan China, India, Jepang, dan Korea Selatan menyumbang hampir 70 persen pengiriman, menurut Administrasi Informasi Energi AS.
Selain minyak, produk energi yang menghadapi tekanan pasokan termasuk bahan bakar jet dan gas alam cair (LNG).
Sekitar 30 persen pasokan bahan bakar jet Eropa berasal dari atau transit melalui selat tersebut, sementara seperlima pasokan LNG global melewati jalur air itu.
Walaupun AS tidak lagi bergantung pada minyak Timur Tengah, dan dampak ke harga di pompa bensin bisa memakan waktu berminggu-minggu, negara itu tetap tidak kebal terhadap gangguan.
“Situasinya sangat dinamis,” kata David Warrick, wakil presiden eksekutif platform rantai pasok Overhaul.






