TEKNOLOGI

Percepat Penanganan Pasien ICU, YARSI Kembangkan Inovasi Berbasis AI

Jakarta (SI Online) – Universitas YARSI mengembangkan program inovasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) guna menunjang efektivitas kerja dokter di ruang Unit Perawatan Intensif (ICU).

Rektor Universitas YARSI, Prof. Fasli Jalal, menyatakan bahwa pengembangan program tersebut didorong oleh perolehan hibah dari Korea, Jepang, serta institusi dalam negeri.

“Dalam artificial intelligence ini kami serius sekali,” kata Prof. Fasli saat ditemui usai acara Wisuda Sarjana dan Pascasarjana di Jakarta, Sabtu (25/04/2026).

Program ini merupakan proyek mahasiswa kedokteran yang memungkinkan AI mengolah data vital pasien, seperti kondisi darah dan pernapasan secara otomatis.

Setelah pengolahan data selesai, sistem AI akan menyajikan saran pilihan obat yang tepat kepada tim medis berdasarkan analisis kondisi pasien.

Fasli menekankan bahwa mekanisme ini bertujuan mempercepat penanganan darurat, meskipun keputusan final pemberian obat tetap berada di tangan dokter.

“Dokter tidak perlu lagi lama berdebat hingga tiga jam yang akhirnya bisa memengaruhi tingkat keselamatan pasien. Jadi, kami berupaya menggunakan AI ini agar mereka yang mendapatkan masalah kesehatan terbantu dalam penanganan pengobatan,” tutur dia. Selain bantuan terapi obat, inovasi AI di kampus tersebut juga dimanfaatkan untuk memantapkan diagnosis medis lainnya.

Penerapan AI tersebut mencakup deteksi kelainan genital pada bayi baru lahir guna mengatasi keterbatasan tenaga ahli di Indonesia. Berdasarkan data, jumlah ahli urologi yang mampu mendiagnosis kelainan tersebut belum mencapai 700 orang untuk seluruh wilayah Tanah Air.

Sebaran ahli urologi tersebut juga dinilai belum merata karena dua per tiga di antaranya masih terpusat di Pulau Jawa. Kondisi ini menjadi tantangan serius mengingat satu dari 300 anak di Indonesia lahir dengan gangguan kesehatan pada organ genital.

Ads: Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Poltek Kesehatan kunjungi poltekkesbangkatengah.org

“Dengan menggunakan artificial intelligence dan pengetahuan kedokteran, kami bisa membantu dari yang enggak mungkin mereka dapat fasilitas itu akhirnya bisa sehingga anak-anak yang mengidap kelainan tersebut tidak perlu dia teraniaya,” ungkap Fasli.

Teknologi ini diharapkan mampu membuka akses layanan kesehatan yang lebih luas bagi anak-anak di daerah terpencil.

Sumber: ANTARA

Back to top button