SPORTS

Piala Dunia 2026: Maroko Jaga Konsistensi dan Tradisi Religiusitas Pemain

Maroko Edisi 2026: Kepercayaan pada Pemuda dan Serangan

Tekanan publik yang meninggi pada Regragui membuat federasi melirik kesuksesan tim nasional kelompok umur Maroko.

Di bawah asuhan Tarek Sektioui, tim muda Maroko meraih perunggu Olimpiade Paris 2024 serta menjuarai Kejuaraan Negara-Negara Afrika 2024 dan Piala Arab FIFA 2025.

Sementara itu, Mohammed Ouhabi juga sukses membawa tim nasional muda menjuarai Piala Dunia U-20 FIFA 2025.

Perubahan kepelatihan di menit-menit terakhir kembali terjadi menjelang Piala Dunia 2026 dengan menunjuk Ouhabi demi memainkan sepak bola menyerang yang ekspansif.

“Ouhabi telah memilih banyak pemain muda,” kata Alrfae mengenai indikator utama perubahan tersebut.

“Sebagian karena dia mengenal mereka, tetapi juga karena mereka cocok dengan pendekatan taktisnya,” lanjut analis tersebut.

Ouhabi sangat mengandalkan pemain lincah berprofil rendah yang secara konstan bertukar posisi dan melakukan rotasi di lapangan.

“Saya pikir Maroko membuat perubahan ini dengan fokus pada Piala Dunia yang akan mereka selenggarakan sendiri pada tahun 2030,” kata jurnalis sepak bola Afrika Utara, Maher Mezahi, kepada Al Jazeera.

Saat menghadapi Belanda di babak 32 besar, fluiditas pergerakan anak asuh Ouhabi memaksa Tim Oranye menyerah dan menumpuk lima bek di lini belakang.

Menurut Mezahi, perubahan taktik Belanda adalah pengakuan implisit bahwa Maroko merupakan tim yang jauh lebih kuat sekaligus pembuktian bahwa penunjukan Ouhabi sudah tepat.

Kembalinya Dukungan Publik dan Nilai-Nilai Fitrah

Dukungan netral dari kawasan Arab dan Afrika sempat anjlok akibat kontroversi AFCON 2025, namun performa apik menahan imbang Brasil 1-1 di fase grup berhasil memikat hati fans kembali.

Untuk pertama kalinya, sebuah tim Arab dan Afrika mampu mendominasi permainan melawan salah satu kekuatan sepak bola terbesar dunia tersebut.

Kelayakan mereka sebagai representasi terbaik Arab dan Afrika makin ditegaskan melalui aksi-aksi simpatik di luar aspek teknis.

Sebuah video viral memperlihatkan Noussair Mazraoui merangkul Gessime Yassine dan mengajaknya untuk shalat serta bersyukur kepada Allah atas gol debutnya ke gawang Haiti.

Sangat menyentuh melihat bagaimana para pemain tetap mempertahankan ikatan yang kuat dengan agama dan budaya Islam, meskipun mayoritas dari mereka lahir dan besar di luar negeri.

Tradisi kehangatan bersama orang tua juga kembali hadir mewarnai ruang ganti tim nasional Maroko di turnamen ini.

Ismail Saibari, penentu kemenangan penalti atas Belanda, langsung berlari ke tribun untuk memeluk ibunya dalam dekapan yang penuh air mata kebahagiaan.

Kiper utama Yassine Bono juga kembali menunjukkan senyuman khasnya yang menenangkan saat mementahkan tendangan penalti lawan.

Konsistensi ini membuat Maroko sangat diunggulkan saat menghadapi Kanada pada babak 16 besar pada Sabtu ini. [Maher Mezahi]

Sumber: Aljazeera.com

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button