Pintal Benang di Atas Puing, Perajin Karpet Gaza Hidupkan Warisan 300 Tahun
Pabrik Utama yang Rata dengan Tanah
Proses merintis kembali usaha ini menghadapi kendala berat akibat hancurnya fasilitas utama. Pabrik yang sebelumnya menopang perekonomian keluarga al-Sawwaf dan puluhan pekerja telah rusak total.
Serangan militer menghancurkan seluruh bangunan serta membakar stok bahan baku, produk siap jual, dan peralatan produksi. Hanya satu unit mesin dan sejumlah alat kecil yang berhasil diselamatkan.
Al-Sawwaf mengalkulasi sekitar 80 hingga 85 persen persediaan benang dan bahan baku di gudangnya telah hangus terbakar.
Sementara itu, sebagian persediaan lainnya masih tertahan di gudang yang berada di bawah kendali militer Israel, tanpa kepastian kondisi barang.
Bahan baku yang tersisa mencakup benang wol dan akrilik impor dari masa sebelum perang, yang kini menjadi modal utama untuk melanjutkan produksi. “Kami bekerja dengan sumber daya apa pun yang tersedia,” tuturnya.
Kembali menggunakan Peralatan Tradisional
Kondisi bengkel kerja mencerminkan keterbatasan fasilitas di sekitarnya. Tidak ada pasokan listrik teratur, peralatan modern, maupun suplai bahan baku yang stabil.
Guna mengatasi keterbatasan tersebut, al-Sawwaf merancang roda pemutar manual yang terinspirasi dari alat buatan kakeknya serta menyesuaikan alat tenun agar dapat beroperasi secara manual.
Dengan gerakan konstan, ia menggulung benang dan memutar roda sembari para pekerja merapikan dan mengikat untaian benang hingga membentuk selembar karpet.
Dampak kerusakan di Gaza mencakup fasilitas ekonomi seperti pabrik, bengkel kerja, dan pertokoan, sehingga memicu peningkatan angka pengangguran.
Restriksi masuknya barang dan bahan baku turut memperparah kelangkaan barang, di tengah menurunnya daya beli masyarakat.
Alternatif Produk Terjangkau
Di tengah kondisi tersebut, karpet buatan tangan menjadi solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan alas tempat tinggal.
Al-Sawwaf menyatakan bahwa permintaan terhadap produknya cukup tinggi karena harganya relatif terjangkau bagi anggaran keluarga pengungsi.
“Saya melihat permintaan masyarakat cukup tinggi terhadap karpet buatan tangan ini karena harganya murah dan terjangkau,” kata al-Sawwaf.
Karpet yang diproduksi saat ini memiliki perbedaan desain dan harga dibanding karpet tradisional, namun tetap berfungsi sebagai alas lantai rumah maupun tenda penampungan.
Bobotnya yang ringan serta kemudahan dalam pembersihan dan pemindahan menjadi nilai tambah bagi para konsumen.






