LAPSUS

Pintal Benang di Atas Puing, Perajin Karpet Gaza Hidupkan Warisan 300 Tahun

Warisan Budaya Tiga Abad

Bagi al-Sawwaf, setiap lembar karpet memiliki nilai sejarah keluarga. Setiap helai benang merepresentasikan kelanjutan profesi yang ia jaga dari ancaman kepunahan akibat konflik.

Ia mengenang pesan almarhum ayahnya bahwa keahlian memintal karpet ini telah diwariskan secara turun-temurun selama hampir 300 tahun.

“Ini adalah profesi ayah dan kakek kami yang diwariskan kepada anak-anaknya,” ujar al-Sawwaf.

Dengan mempekerjakan kembali para mantan buruh pabriknya, al-Sawwaf berupaya memulihkan pendapatan ekonomi mereka.

Beraktivitas di Dekat Yellow Line

Bengkel kerja al-Sawwaf berlokasi di dekat persimpangan Sanafor, lingkungan Al-Tuffah, yang berdekatan dengan area Yellow Line (Garis Kuning)—zona penyiagaan pasukan militer Israel berdasarkan kesepakatan gencatan senjata.

“Saya bertekad untuk tetap tinggal dan bekerja meskipun posisi pasukan militer berada di dekat sini,” tegas al-Sawwaf. “Kami harus melanjutkan usaha ini sepeninggal ayah saya.”

Garis Kuning ditetapkan sebagai batas penyiagaan militer menyusul gencatan senjata pada 10 Oktober 2025. Kendati demikian, kontrol wilayah militer diperluas hingga mencakup sekitar 70 persen dari total wilayah Jalur Gaza.

Al-Sawwaf berharap kondisi keamanan membaik sehingga bahan baku dan mesin produksi dapat kembali masuk ke Gaza demi memperluas kapasitas usaha yang hancur.

Laporan otoritas kesehatan Gaza mencatat lebih dari 73.000 warga Palestina gugur dan lebih dari 174.000 lainnya luka-luka sejak Oktober 2023, di mana sebagian besar korban merupakan perempuan dan anak-anak.[]

Sumber: Anadolu Agency

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button