Psikologi Tombol Like: Ketika Pemburu Validasi Terjebak Candu Digital
Sebagai seorang kepala sekolah, saya melihat gejala sosial ini sudah mulai merambah dan merusak dunia pendidikan kita. Sebagian peserta didik tampak jauh lebih gelisah ketika unggahan mereka sepi like daripada ketika nilai belajar mereka menurun. Ada santri atau siswa yang tega menghapus fotonya sendiri hanya karena respons publik tidak sesuai dengan harapan pribadinya.
Ada pula remaja yang merasa minder dan menarik diri dari pergaulan hanya karena jumlah pengikutnya berada jauh di bawah teman-temannya. Di ruang-ruang kelas, saya menyaksikan sendiri bagaimana algoritma digital perlahan-lahan ikut membentuk rasa percaya diri generasi muda. Jika dibiarkan, hal ini akan merusak kesehatan mental anak didik dalam jangka panjang.
Fenomena ini tidak berhenti pada munculnya rasa insecure di kalangan generasi muda yang sedang tumbuh semata. Ia juga melahirkan Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kecemasan akut untuk selalu mengikuti tren dan ketakutan tertinggal dari percakapan publik. Banyak orang akhirnya membuka media sosial bukan karena mereka benar-benar membutuhkan informasi tersebut untuk kehidupan mereka.
Mereka membukanya hanya karena takut dianggap tidak mengikuti perkembangan zaman oleh kelompok bermainnya. Pada akhirnya, mereka terus terhubung dengan dunia luar, tetapi perlahan kehilangan hubungan yang spiritual dan sehat dengan dirinya sendiri. Mereka menjadi asing dengan jiwa mereka akibat terlalu sibuk memperhatikan layar gawai.
Di sisi lain, industri teknologi media sosial memang hidup dan berkembang dari perhatian serta durasi aktif para penggunanya. Dalam dunia ekonomi digital yang kapitalistik, perhatian publik adalah komoditas bisnis yang bernilai sangat berharga. Semakin lama seseorang bertahan di sebuah platform, semakin besar pula keuntungan finansial yang diperoleh perusahaan teknologi raksasa tersebut.
Karena alasan bisnis itulah, algoritma dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna, bukan untuk menjaga kesehatan psikologis mereka. Akibat desain sistem yang manipulatif tersebut, lahirlah budaya viral yang sering kali tidak mengindahkan nilai-nilai moral. Tidak sedikit orang rela mempertontonkan konflik internal keluarga atau mempermalukan dirinya sendiri di depan kamera demi konten.
Mereka membuat sensasi murahan, bahkan tega mengorbankan martabat kemanusiaannya demi beberapa detik perhatian publik. Menjadi viral bukan lagi sekadar bonus dari sebuah aktivitas digital yang bermanfaat, tetapi telah bergeser menjadi tujuan utama hidup. Orientasi hidup masyarakat telah bergeser dari mengejar keberkahan menjadi mengejar popularitas semu.
Padahal, perhatian manusia adalah sesuatu yang sifatnya sangat rapuh, fana, dan mudah berubah setiap waktu. Hari ini seseorang dipuji setinggi langit oleh netizen, tetapi esok hari ia bisa langsung dihujat atau dilupakan begitu saja. Hari ini seseorang menjadi pusat perhatian dunia, esok hari posisinya sudah berganti dengan tokoh lain yang lebih sensasional.
Jika harga diri dibangun di atas perhatian publik, ketenangan batin kita akan selalu dipermainkan oleh naik-turunnya algoritma digital. Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam kitabnya pernah mengingatkan bahwa krisis manusia modern bukan karena mereka kekurangan informasi. Krisis utama manusia saat ini adalah hilangnya adab dalam memandang hakikat ilmu dan tujuan kehidupan.
Dalam konteks penggunaan media sosial, kita mungkin sedang menghadapi bentuk baru dari krisis moral yang cukup mengkhawatirkan tersebut. Kita tidak hanya mengalami banjir informasi, tetapi juga sedang mengalami banjir tuntutan validasi dari sesama makhluk. Kita menjadi semakin sibuk mencari pengakuan dari luar, hingga lupa membangun penghargaan terhadap diri sendiri dari dalam.
Islam mengajarkan bahwa kemuliaan seorang manusia sama sekali tidak ditentukan oleh seberapa banyak ia dikenal di dunia. Kemuliaan hakiki seorang hamba ditentukan oleh kualitas iman, akhlak, dan amal salehnya di hadapan Allah Swt. Nilai seorang manusia tidak akan bertambah karena ribuan orang menekan tombol like pada akun miliknya.
Begitu pula sebaliknya, nilai dirinya tidak akan berkurang sedikit pun hanya karena unggahannya sepi dari perhatian netizen. Kemuliaan manusia tidak diukur oleh rumitnya algoritma digital, melainkan dinilai langsung oleh Allah Swt. Rasulullah saw. juga telah mengingatkan kita semua mengenai hakikat penilaian yang sesungguhnya di hadapan Sang Pencipta.






