IBADAH

Salat, Sarana Bermuwajahah dengan Allah Swt

Pentingnya Membaca Sunnah-Sunnah Salat

Selain mengabaikan tuma’ninah, sebagian umat Islam sering membiarkan bacaan-bacaan sunnah dalam salat tidak dibaca dengan alasan tidak membatalkan salat.

Padahal, bacaan seperti doa iftitah, surah atau ayat Al-Qur’an setelah Al-Fatihah pada rakaat pertama dan kedua, hingga selawat Ibrahimiyyah memiliki keutamaan yang sangat besar.

Salah satu bacaan yang kerap ditinggalkan mushallin (orang yang salat) adalah doa perlindungan dari empat fitnah sebelum salam. Rasulullah saw. mempraktikkan doa ini dalam tasyahud akhir:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ، يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian telah tasyahud akhir, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari empat hal, beliau mengucapkan: ‘Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, serta dari kejahatan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.’” (H.R. Muslim).

Membaca seluruh tuntunan doa tersebut sangat penting agar seorang hamba terhindar dari marabahaya fitnah dunia dan akhirat.

Membaca Al-Qur’an di dalam salat juga memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan membacanya di luar salat, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Sayyidatina Aisyah r.a.:

قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فى الصَّلاَةِ اَفْضَلُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فىِ غَيْرِ الصَّلاَةِ قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ فى غَيْرِ الصَّلاَةِ اَفْضَلُ مِنْ التَّسْبِيْحِ وَالتَّكْبِيْرِ التَّسْبِيْحُ اَفْضَلُ مِنَ الصَّدَقَةِ الصَّدَقَةُ اَفْضَلُ مِنَ الصَّوْمِ الصَّوْمُ مِنَ النَّارِ

Membaca Al-Qur’an di dalam salat lebih utama daripada membaca Al-Qur’an di luar salat. Membaca Al-Qur’an di luar salat lebih utama daripada tasbih dan takbir. Tasbih lebih utama daripada sedekah, sedekah lebih utama daripada puasa, dan puasa adalah perisai dari api neraka.” (H.R. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman).

Mencapai Kekhusyukan Salat

Agar dapat merasakan dzauq atau kenikmatan bermunajat kepada Allah Swt., seorang muslim harus berupaya mencapai kekhusyukan.

Allah Swt. memuji hamba-Nya yang khusyuk dalam firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ . الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam salatnya.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 1–2).

Ulama kontemporer Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam kitab At-Tafsir al-Munir menjelaskan makna khusyuk pada ayat tersebut:

وَهُوَ الْخُضُوعُ وَالتَّذَلُّلُ لِلَّهِ وَالْخَوْفُ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى وَمَحَلُّهُ الْقَلْبُ فَإِذَا خَشَعَ خَشَعَتِ الْجَوَارِحُ كُلُّهَا لِخُشُوعِهِ إِذْ هُوَ مَلِكُهَا

“Khusyuk adalah kepasrahan, kerendahan hati, dan rasa takut kepada Allah Ta’ala. Tempatnya berada di dalam hati. Apabila hati khusyuk, seluruh anggota badan ikut khusyuk karena hati adalah pemimpin bagi seluruh anggota badan.” (Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsir al-Munir, juz XVIII, hlm. 14).

Salah satu cara memperoleh kekhusyukan adalah dengan memahami arti dari bacaan salat yang dilafalkan.

Mari menunaikan salat dengan sebaik-baiknya sesuai dengan Sunnah Rasulullah saw., agar ibadah yang dikerjakan tidak sia-sia. Wallahu a’lam.[]

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button