SUARA PEMBACA

Sensasionalisme Keji, Gadaikan Moral dan Ayat Suci Demi Viral

Konsekuensi hukum harus adil dan tidak tebang pilih. Konsekuensi sosial juga harus lahir dari masyarakat yang berani untuk tidak menonton dan tidak membagikan konten yang merendahkan.

Selain itu, konsekuensi juga harus diberikan kepada platform digital yang selama ini diuntungkan dari kontroversi, tetapi abai dalam menjaga ruang publik yang sehat. Langkah tegas ini mutlak diperlukan.

Lebih dari itu, kita butuh keberanian untuk berbicara sampai ke akar masalah. Selama kita hanya menyalahkan pelaku tanpa mengoreksi sistem yang memproduksi pelaku, lingkaran ini tidak akan pernah putus.

Selama kebebasan berekspresi ditempatkan di atas segalanya—termasuk di atas rasa hormat dan iman—akan selalu ada pihak yang menguji batas. Penataan ulang nilai harus dilakukan secara mendasar.

Pada akhirnya, ini adalah soal garis merah. Di tengah dunia yang menjamin semua hal bisa diekspresikan, masyarakat harus memastikan ada hal-hal yang tidak bisa diganggu gugat.

Ada batas yang tidak boleh dilewati, bukan karena takut sanksi, melainkan karena ada kesadaran dan iman yang menjaganya. Kesadaran inilah yang membentengi diri.

Jika kita tidak menjaga garis itu mulai sekarang, beberapa tahun ke depan kita tidak akan lagi marah. Kita hanya akan pasrah dan berkata, “memang begini zamannya.”

Dan itu jauh lebih berbahaya daripada satu video viral. Sebab, artinya kita telah kalah sebelum bertarung.

Moral bukanlah aplikasi yang bisa diunduh. Ia harus diperjuangkan setiap hari. Moral diajarkan di rumah, dijaga di komunitas, dan ditegakkan bersama. Sebab, kalau bukan kita, siapa lagi, dan jika tidak sekarang, kapan lagi. Wallahu a’lam bish-shawab. []

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button