ALIRAN SESAT

Sepilis dan Bahayanya

Salah satu contoh : ayat “al-Islam” dalam ayat “innaddiina ‘indallahi al-Islam”. (QS.Ali Imran :19). Menurut mereka “al-Islam” diartikan penyerahan diri. Padahal makna yang benar “al-Islam” adalah diinul Islam. Sehingga ayat itu menurut paham liberal adalah ” bahwa sesungguhnya agama disisi Allah adalah penyerahan diri”, padahal yang benar adalah ” Sesungguhnya agama yang diridhai Allah adalah agama Islam”.

Untuk itu umat Islam harus membentengi diri dari serangan jaringan Islam liberal ini yang senantiasa propaganda untuk kebebasan demi HAM Barat tanpa memperdulikan syariat Islam.

Liberalisme ini memuja hawa nafsu tanpa menghiraukan syariat. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ ۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. [QS. al-An’âm: 162-163]

Pahami Islam!

Agar kita terhindari dari penyakit sepilis, maka kita wajib membentengi diri dengan akidah yang kokoh. Caranya pahami Islam dengan baik dengan ulama yang cukup kompeten. Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan membuatnya faham tentang agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan)

Dengan _tafaqquh fiddiin+ seorang muslim akan selamat akidahnya dari propaganda sepilis yang kian marak, tidak terjebak dalam kekafiran dan kemusyrikan, benar ibadahnya mengikuti petunjuk Rasul dan baik akhlaknya sesuai syariat Islam

Disamping itu juga penting harus selektif memilih lembaga pendidikan baik sekolah, perguruan tinggi maupun pesantren. Jangan sampai lembaga pendidikan yang terinfeksi sepilis menjadi lembaga yang dipilihnya. Hancur akidah! Wal’iyadzu billah mindzalik.

Abd. Mukti, Pemerhati Kehidupan Beragama.

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button