#Bebaskan PalestinaOPINI

Setahun, Pengakuan Negara Palestina oleh Inggris Mulai Buahkan Hasil

Di Gaza, tempat dua juta rakyat kami terisolasi di kurang dari 30 persen wilayah Jalur Gaza, Israel terus membombardir dan membunuh warga sipil. Lebih dari 1.400 warga Palestina telah gugur sejak apa yang disebut gencatan senjata dimulai pada Oktober tahun lalu. Sementara itu, lebih dari 140.000 terpal dan 7.500 tenda yang ditujukan untuk perlindungan musim dingin bagi warga Palestina yang kehilangan tempat tinggal masih ditahan di koridor Yordania.

Jalan Menuju Depan

Sudah terlalu lama negara-negara seperti Britania Raya bersikap ragu-ragu dan terlalu berhati-hati. Sikap ini mengirimkan sinyal yang salah kepada Israel, memicu aksi yang lebih agresif, dan memperkuat budaya kebal hukum (impunity).

Agar hal itu berubah, langkah sanksi yang diumumkan harus diikuti dengan tindakan nyata.

Pertama, harus ada penerapan secara penuh dan segera. Sanksi-sanksi tersebut harus dipraktikkan, dan ke-12 pemerintah harus menyepakati bagaimana mereka akan merespons tekanan untuk membalikkan arah kebijakan. Persatuan dapat membantu menghadapi tekanan luar.

Kedua, harus ada perlindungan bagi masyarakat yang menjadi tujuan dari kebijakan ini. Panen zaitun akan dimulai bulan depan di Palestina. Selama panen tahun lalu, PBB mencatat 126 serangan pemukim di 70 kota dan desa hanya dalam tiga minggu pertama. Panen tahun ini adalah ujian nyata pertama apakah sanksi terhadap pemukim memiliki pengaruh di lapangan.

Tindakan kolektif tidak boleh terbatas pada Tepi Barat yang diduduki. Harus ada upaya untuk mengakhiri genosida yang sedang berlangsung di Gaza dan pelanggaran gencatan senjata yang terus dilakukan Israel. Secara mendesak, perlu ada tekanan untuk menjamin penyaluran bantuan, terutama bahan-bahan tenda darurat yang sangat dibutuhkan yang tertahan di koridor Yordania.

Melangkah ke depan, kita harus mengingat teladan dari gerakan anti-apartheid di Afrika Selatan. Kampanye boikot dan sanksi dahulu dilawan oleh pemerintah negara-negara Barat, termasuk Britania Raya, dan tindakan mereka kini dikenang sebagai langkah yang tertinggal di belakang kehendak rakyatnya sendiri.

Kali ini, Britania Raya dapat memimpin dan dinilai secara berbeda jika tetap teguh pada pendiriannya, bergerak bersama dengan jumlah mitra yang terus bertambah, sebagaimana yang dilakukannya bersama 11 pemerintah negara lain dua minggu lalu.

Tahun depan menandai 110 tahun Deklarasi Balfour, 80 tahun sejak pemungutan suara pembagian wilayah oleh PBB, dan 60 tahun sejak pendudukan dimulai. Palestina telah melewati terlalu banyak titik awal. Yang dibutuhkannya sekarang adalah titik akhir.

Untuk pertama kalinya dalam satu generasi, hukum, politik, dan aspirasi publik di London mulai mengarah ke tujuan yang sama. Ini adalah kesempatan bagi Britania untuk memimpin masa depan yang lebih baik dan menebus masa lalu.

Ketika pendudukan berakhir—dan itu pasti terjadi—jalan menuju perdamaian yang berakar pada keadilan, martabat, dan kesetaraan akhirnya dapat terbentang.[]

Sumber: Aljazeera.com

Laman sebelumnya 1 2
Back to top button