SPMB Carut-Marut, Puluhan Ribu Mahasiswa Gagal Kuliah: Ketika Pendidikan Jadi Komoditas
Sejarah peradaban Islam membuktikan bagaimana negara membangun sekolah, perpustakaan, universitas, hingga pusat-pusat riset dengan pembiayaan negara. Ilmu tidak dijual kepada rakyat, tetapi disebarkan seluas-luasnya demi membangun peradaban yang unggul.
Karena itu, carut-marut SPMB, mahalnya UKT, ribuan mahasiswa yang gagal kuliah, hingga penutupan berbagai program studi bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Semua hanyalah gejala dari satu akar masalah: pendidikan telah dikelola dengan paradigma kapitalistik yang menempatkan pasar sebagai penentu arah pendidikan.
Selama paradigma ini tidak berubah, setiap tahun kita hanya akan menyaksikan cerita yang sama. Anak-anak berprestasi kehilangan kesempatan belajar, orang tua semakin terbebani, dan kampus terus dipaksa menyesuaikan diri dengan kepentingan pasar.
Sudah saatnya bangsa ini berhenti sekadar menambal kebocoran. Yang dibutuhkan bukan hanya perbaikan teknis SPMB, bukan sekadar penyesuaian UKT, atau penambahan kuota KIP Kuliah. Yang dibutuhkan adalah perubahan paradigma pengelolaan pendidikan.
Sebab pendidikan bukan investasi bisnis. Pendidikan adalah amanah peradaban. Dan selama amanah itu masih diserahkan kepada logika pasar, keadilan pendidikan hanya akan menjadi janji yang terus diulang, tetapi tak pernah benar-benar dirasakan rakyat.[]
Selvi Sri Wahyuni, M.Pd., Pegiat Pendidikan






