OASE

Takwa Berkelanjutan: Makna Syawal dan Tantangan Era Digital (2)

Membangun Karakter Mulia Murid di Era Digital

Kata “karakter” diserap dari bahasa Yunani. Di sini penulis menyamakannya dengan akhlak. Jadi, karakter sama dengan akhlak.

Selanjutnya, hal pokok yang harus diketahui semua orang adalah bahwa tegak dan runtuhnya suatu bangsa dan negara bergantung pada akhlak masyarakatnya.

Karena yang membentuk suatu bangsa dan negara adalah rakyat atau penduduk di suatu wilayah yang memiliki satu tujuan yang sama, maka yang bertanggung jawab atas tegak dan runtuhnya bangsa dan negara tersebut adalah penduduk itu sendiri.

Dengan kata lain, yang bertanggung jawab atas pembentukan akhlak mulia masyarakat suatu negara adalah seluruh lapisan masyarakat, baik individu (murid), orang tua, guru, maupun pemerintah.

Baca juga: Takwa Berkelanjutan: Makna Syawal dan Tantangan Era Digital (1)

Namun, dalam tulisan ini penulis akan membatasi pada peran dan tips orang tua dalam membangun dan membentuk karakter/akhlak murid di era digital. Menurut penulis era/dunia digital rasanya sama saja dengan dunia nyata.

Hanya saja aktivitas manusia yang biasanya menuntut kontak langsung dengan sesamanya “didigitalisasi” ke dalam dunia maya, sehingga interaksi sosial tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kehadiran fisik, melainkan dapat berlangsung melalui media teknologi. Akibatnya, batasan ruang dan waktu menjadi semakin kabur, komunikasi menjadi lebih cepat dan praktis.

Dengan demikian, ketika berbicara tentang akhlak murid di era digital, maka pada dasarnya pembicaraan menuju pada pembicaraan akhlak di dunia nyata. Ringkasnya, kode akhlak/etik apa yang berlaku di dunia nyata, maka itu juga berlaku di dunia digital.

Iman dan Takwa: Dasar Akhlak Mulia

Ketika kita membaca dan mempelajari isi Al-Qur’an, kita akan menemukan banyak ayat yang membicarakan perintah melakukan amal saleh. Perintah tersebut biasanya didahului oleh perintah beriman. Sebagai contoh, dalam Surah Al-‘Aṣr, Allah Swt. berfirman:

وَٱلۡعَصۡرِ ١ إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Aṣr [103]:1-3).

Dalam ayat ini tampak jelas bahwa iman ditempatkan sebagai fondasi utama sebelum amal saleh, sehingga setiap perbuatan baik yang dilakukan seorang hamba memiliki landasan keyakinan yang kokoh dan bernilai di sisi Allah Swt.

Jika dikatakan bahwa akhlak mulia termasuk amal saleh—atau amal saleh merupakan akhlak mulia—maka fondasi akhlak mulia itu adalah iman. Jika dikatakan bahwa akhlak mulia terkandung dalam takwa—bahwa orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki akhlak mulia—maka fondasi takwa itu juga adalah iman.

1 2Laman berikutnya
Back to top button