#MBGNASIONAL

Tepis Tudingan Utang demi MBG, Pakar: Itu Cara Berpikir Fiskal yang Dangkal!

Jakarta (Suaraislam.id)-Analis senior menilai anggapan yang mengaitkan kenaikan utang negara dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bentuk pemikiran fiskal yang sangat dangkal dan tidak memahami mekanisme APBN modern.

Pakar ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita, menegaskan bahwa dalam tata kelola anggaran modern, utang pemerintah tidak pernah digunakan hanya untuk membiayai satu program spesifik.

“Dalam struktur APBN modern, utang negara tidak pernah berdiri untuk membiayai satu program tunggal, tetapi menjadi bagian dari keseluruhan strategi pembiayaan negara, mulai dari infrastruktur, pendidikan, kesehatan, subsidi energi, perlindungan sosial, hingga stabilisasi ekonomi,” kata Ronny dalam keterangannya, Selasa (12/5/2026).

Data resmi dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) menunjukkan utang pemerintah pusat telah mencapai Rp9.920,42 triliun atau setara 40,75 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) per Maret 2026.

Komposisi utang tersebut didominasi oleh Surat Berharga Negara sebesar Rp8.652,89 triliun serta pinjaman sebesar Rp1.267,52 triliun.

Ronny menjelaskan bahwa APBN Indonesia menggunakan mekanisme pooled financing sehingga mengambinghitamkan program MBG sebagai penyebab tunggal kenaikan utang adalah penyederhanaan yang tidak ilmiah.

“Kalau logika seperti itu dipakai, maka semua program negara, dari jalan tol sampai gaji ASN, bisa dituduh sebagai penyebab tunggal utang. Padahal, ekonomi negara bekerja jauh lebih kompleks daripada sekadar cocoklogi fiskal di media sosial,” ujarnya.

Investasi pada gizi anak justru dipandang sebagai bentuk belanja negara yang sangat produktif demi membangun fondasi kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang.

Kekurangan nutrisi kronis dan stunting pada anak berisiko besar menurunkan kapasitas kognitif serta produktivitas ekonomi bangsa di masa depan.

“Negara bukan sedang menghabiskan uang untuk makan siang, tetapi melakukan investasi biologis dan intelektual terhadap generasi produktif 15 hingga 20 tahun mendatang,” terangnya.

Biaya membiarkan generasi tumbuh dengan kesehatan buruk jauh lebih mahal dampaknya terhadap PDB dibandingkan dengan biaya memberikan asupan gizi yang layak.

Program MBG juga diyakini memberikan efek pengganda (multiplier effect) yang luas bagi sektor pertanian, peternakan, UMKM pangan, hingga pembukaan lapangan kerja di tingkat lokal.

1 2Laman berikutnya
Back to top button