OASE

Ujian Hidup: Ketika Nikmat Pun Menjadi Ujian

Kisah Nabi Sulaiman a.s. mempertegas hal itu. Ketika memperoleh karunia besar, beliau tidak menganggap hal itu karena kehebatannya.

Beliau justru berkata:

هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ لِيَبْلُوَنِيْ أَاَشْكُرُ أَمْ اَكْفُرُ

“Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).” (QS. An-Naml: 40).

Perhatikan cara Nabi Sulaiman a.s. membaca nikmat. Karunia tidak membuatnya lupa bahwa dirinya sedang diuji.

Justru ketika mendapatkan sesuatu yang luar biasa, pertanyaannya adalah a-asykuru am akfur (apakah aku akan bersyukur atau kufur).

Inilah perbedaan antara cara pandang manusia dan cara pandang iman. Manusia sering bertanya apakah ini musibah atau anugerah.

Sementara itu, iman mengajarkan pertanyaan yang lebih dalam: apa yang Allah Swt. kehendaki dariku melalui musibah atau anugerah ini?

Anak yang sulit adalah ujian, tetapi anak yang berhasil juga merupakan ujian. Anak yang gagal adalah ujian, begitu pula anak yang berprestasi.

Anak diuji melalui kehidupannya, sedangkan orang tua diuji melalui caranya merespons kehidupan anaknya.

Ketika anak kesulitan belajar, orang tua diuji dengan kesabaran. Ketika anak enggan salat, orang tua diuji dengan ketelatenan dan keteladanan.

Ketika anak gagal, orang tua diuji apakah mampu menguatkan tanpa merendahkan. Namun, ketika anak berhasil, orang tua juga diuji apakah mampu bersyukur tanpa menyombongkan diri.

Karena itu, seorang ibu boleh saja berkata bahwa dirinya sedang diuji dengan anak-anaknya. Orang lain mungkin bertanya apakah anaknya bermasalah.

Ia menjawab tidak dan menjelaskan bahwa anaknya lulus dengan nilai terbaik. Ketika ditanya bukankah itu anugerah, ia mengiyakan, tetapi menyadari bahwa ia sedang diuji dengan anugerah tersebut: apakah akan bersyukur atau justru menjadikannya alasan untuk membanggakan diri.

Di sinilah kita perlu mengubah cara membaca kehidupan. Ujian bukanlah nama dari peristiwa, melainkan keadaan yang Allah Swt. hadirkan untuk melihat bagaimana kita bersikap di hadapan-Nya.

Sakit menguji kesabaran, sedangkan sehat menguji penggunaan nikmat. Kemiskinan menguji keteguhan, sedangkan kekayaan menguji amanah.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button