OASE

Ujian Hidup: Ketika Nikmat Pun Menjadi Ujian

Kegagalan menguji ketabahan, sedangkan keberhasilan menguji kerendahan hati. Anak yang bermasalah menguji kesabaran orang tua, sedangkan anak yang sukses menguji kesyukuran orang tua.

Maka, jangan terlalu cepat mengira bahwa seseorang yang hidupnya penuh kenikmatan berarti sedang bebas dari ujian. Bisa jadi ia justru sedang berada dalam ujian yang paling halus, yakni ujian yang terasa seperti hadiah.

Musibah kadang membuat manusia menangis lalu mencari Allah Swt. Namun, nikmat kadang membuat manusia tersenum lalu melupakan Allah Swt.

Karena itu, yang menentukan nilai sebuah peristiwa bukan semata-mata bentuk lahiriahnya, melainkan sikap batin dan respons iman terhadapnya.

Pada akhirnya, kita tidak hanya diuji dengan apa yang tidak kita sukai, melainkan juga diuji dengan apa yang sangat kita sukai. Kita diuji dengan kehilangan, tetapi juga diuji dengan kepemilikan.

Kita diuji dengan kegagalan, tetapi juga diuji dengan keberhasilan. Kita diuji dengan anak yang sulit, tetapi juga diuji dengan anak yang membanggakan.

Maka, jangan hanya bertanya mengapa Allah Swt. memberi kita ini. Belajarlah bertanya untuk apa Allah Swt. memberikan ini.

Sebab, mungkin anak yang kita anggap sebagai sumber masalah sebenarnya sedang menjadi madrasah kesabaran bagi kita. Anak yang kita banggakan karena prestasinya mungkin sedang menjadi madrasah kesyukuran bagi kita.

Pada akhirnya, bukan hanya anak yang sedang dibentuk oleh orang tua. Orang tua pun sedang dibentuk oleh Allah Swt. melalui anak-anaknya.

Karena itu, ketika ditanya sedang diuji dengan apa, jawabannya tidak selalu harus berupa musibah. Bisa jadi kita sedang diuji dengan kesehatan, kekayaan, jabatan, ilmu, pasangan, orang tua, anak-anak, bahkan dengan keberhasilan yang selama ini kita doakan.

Sebab, Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa kita diuji dengan keburukan dan kebaikan.

Maka, jangan hanya meminta kepada Allah Swt. agar dijauhkan dari ujian. Mintalah pula agar diberi kemampuan untuk lulus dari setiap ujian, baik yang datang dalam bentuk musibah maupun yang datang dengan wajah anugerah.

Boleh jadi, yang kita sebut “Tuhanku memuliakanku” ternyata sedang menjadi ujian. Dan apa yang kita keluhkan sebagai “Tuhanku menghinakanku” pun belum tentu sebuah kehinaan.

Keduanya adalah ruang tempat manusia membuktikan apakah ia mampu bersabar ketika kehilangan dan mampu bersyukur ketika mendapatkan.[]

Laman sebelumnya 1 2 3
BACA JUGA
Close
Back to top button