IBRAH

Umair bin Saad, Gubernur Zuhud Berjiwa Prajurit

Setelah menerima surat dari Umar r.a., Umair bin Saad langsung mengambil kantong makanannya. Ia menyampirkan wadah ransum beserta wadah air wudunya di atas pundak, lalu menggenggam tombaknya erat-erat.

Ia melangkah pergi meninggalkan Kota Hims beserta segala kemewahan fasilitas jabatan gubernurnya tanpa menoleh ke belakang. Ia menempuh perjalanan jauh menuju Madinah seorang diri dengan berjalan kaki.

Ketika akhirnya ia sampai di Madinah, kondisi fisiknya tampak sangat memprihatinkan. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya kurus kering, dan seluruh badannya dipenuhi oleh tanda-tanda keletihan akibat perjalanan jauh yang sangat berat.

Umair masuk menemui Amirulmukminin r.a. di kantornya. Al-Faruq (Umar) seketika terperanjat menyaksikan kondisi fisik mantan gubernurnya itu, lalu bertanya, “Apakah yang telah menimpamu, wahai Umair?”

Umair menjawab dengan tenang, “Aku tidak apa-apa, wahai Amirulmukminin; tubuhku sehat, aku memuji Allah, dan aku telah membawa seluruh dunia bersamaku ke sini.” Umar tertegun seraya bertanya, “Harta dunia apa yang engkau bawa?” karena mengira Umair membawa harta rampasan yang banyak untuk Baitulmal.

Umair menjelaskan, “Aku membawa kantong ini tempatku menyimpan perbekalan, wadah yang kugunakan untuk makan sekaligus membasuh kepala dan pakaianku, serta tempat air untuk minum dan berwudu.” Ia kemudian menambahkan, “Ketahuilah wahai Amirulmukminin, sesungguhnya dunia beserta isinya ini hanyalah remah-remah yang sama sekali tidak aku butuhkan.”

Umar bertanya dengan heran, “Apakah engkau menempuh perjalanan dari Syam ke Madinah dengan berjalan kaki?” Umair menjawab, “Benar, wahai Amirulmukminin.”

Umar kembali bertanya dengan nada menyelidik, “Apakah pihak keamiran di sana tidak memberimu fasilitas hewan tunggangan untuk engkau kendarai?!” Umair menjawab, “Mereka tidak memberiku fasilitas tersebut, dan aku pun tidak pernah memintanya dari mereka.”

Umar melanjutkan pertanyaannya, “Lalu di mana seluruh aset berharga yang engkau kumpulkan untuk Baitulmal?” Umair menjawab dengan jujur, “Aku tidak membawa sepeser pun harta untuk Baitulmal.”

Umar terkejut lalu bertanya, “Mengapa bisa demikian?!” Umair menerangkan bahwa setibanya di Hims, ia langsung mengumpulkan orang-orang saleh di kota tersebut dan memercayakan pengelolaan pajak kepada mereka.

“Setiap kali mereka berhasil mengumpulkan harta pajak tersebut, aku langsung bermusyawarah dengan mereka untuk mengalokasikannya ke tempat-tempat yang tepat dan mendistribusikannya kepada orang-orang yang berhak menerimanya,” papar Umair.

Mendengar penjelasan tersebut, Umar langsung memerintahkan sekretarisnya, “Perbarui surat keputusan jabatan Umair untuk kembali memimpin Wilayah Hims!”

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button