IBRAH

Umair bin Saad, Gubernur Zuhud Berjiwa Prajurit

Namun, Umair langsung menyanggahnya, “Sama sekali tidak, itu adalah jabatan yang tidak aku inginkan.” Ia menegaskan bahwa ia tidak akan pernah lagi bekerja menjadi pejabat untuk Umar maupun untuk siapa pun setelahnya.

Setelah itu, ia meminta izin kepada Amirulmukminin untuk pergi dan menetap di sebuah desa terpencil di luar Kota Madinah tempat keluarganya tinggal. Umar r.a. akhirnya mengabulkan permohonan tersebut dengan berat hati.

Tidak lama setelah kepindahan Umair ke desanya, Umar ingin menguji kebenaran tingkat zuhud dari mantan gubernurnya tersebut. Ia mengutus seorang pria kepercayaannya yang bernama Al-Harits.

Umar memberikan instruksi khusus kepada utusannya, “Pergilah wahai Harits menemui Umair, dan menginaplah di rumahnya dengan menyamar sebagai seorang musafir yang butuh tumpangan.”

Ia berpesan jika Harits melihat ada tanda-tanda kemakmuran, ia harus segera pulang, tetapi jika mendapati kondisi yang sangat memprihatinkan, ia harus menyerahkan kantong dinar emas ini kepadanya.

Al-Harits pun berangkat hingga sampai di desa tempat tinggal Umair. Begitu bertemu, ia langsung mengucapkan salam, “Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepadamu.” Umair menjawab, “Dan sebaliknya keselamatan untukmu, dari mana engkau datang?” Harits menjawab bahwa ia datang dari Madinah.

Umair langsung menanyakan kondisi di pusat kekhalifahan, “Bagaimana engkau meninggalkan kaum muslim di sana?” Harits menjawab, “Mereka dalam kondisi yang sangat baik.” Umair kembali bertanya, “Bagaimana kondisi Amirulmukminin?” Harits menjawab, “Beliau sehat walafiat dan sangat saleh.”

Umair bertanya lagi untuk memastikan keadilan hukum, “Bukankah beliau menegakkan hukum-hukum Allah dengan adil?” Harits menjawab, “Benar sekali.” Mendengar hal itu, Umair langsung berdoa, “Ya Allah, berikanlah kekuatan dan pertolongan-Mu kepada Umar.”

Al-Harits menetap sebagai tamu di rumah Umair selama tiga malam berturut-turut. Setiap malam, hidangan yang disajikan untuknya hanyalah sepotong roti gandum yang sangat keras.

Memasuki hari ketiga, seorang tetangga berbisik kepada Al-Harits, “Sesungguhnya engkau telah sangat merepotkan Umair beserta istrinya.”

Tetangga itu menjelaskan bahwa keluarga Umair tidak memiliki makanan lain kecuali sepotong roti gandum tersebut, yang sengaja mereka berikan kepada tamu demi mendahulukan kepentingannya di atas kepentingan mereka sendiri hingga mereka menahan lapar yang hebat.

Tetangga itu menawarkan, “Jika engkau tidak keberatan, pindahlah menginap ke rumahku saja.” Mendengar kesaksian yang memilukan itu, Al-Harits segera mengeluarkan kantong dinar emas titipan khalifah dan menyerahkannya langsung kepada Umair.

Umair terkejut melihat kantong itu lalu bertanya, “Harta apa ini?!” Al-Harits menjawab, “Ini adalah hadiah yang dikirimkan oleh Amirulmukminin khusus untukmu.”

Umair langsung menolaknya seraya berkata, “Kembalikan harta ini kepada beliau, dan sampaikan salamku untuknya.” Namun, istrinya yang mendengar percakapan itu langsung berteriak dari balik tirai, “Ambillah uang itu wahai Umair!”

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button