Umair bin Saad, Gubernur Zuhud Berjiwa Prajurit
Istrinya menasihati bahwa jika mereka membutuhkannya, mereka bisa menggunakannya, dan jika tidak, mereka bisa membagikannya karena jumlah orang yang kelaparan di desa ini sangat banyak.
Umair akhirnya menerima kantong dinar tersebut dan tidak tidur sepanjang malam itu sebelum selesai membagikan seluruh dinar emas tersebut kepada orang-orang miskin, terutama kepada anak-anak yatim korban perang.
Al-Harits kembali ke Madinah dan melaporkan seluruh pemandangan mengharukan yang disaksikannya kepada Umar r.a. Mendengar laporan itu, Umar segera mengirim utusan untuk memanggil Umair menghadap ke Madinah.
Setibanya Umair di hadapannya, Umar langsung bertanya, “Apakah yang telah engkau lakukan terhadap dinar-dinar emas itu, wahai Umair?” Umair menjawab dengan senyuman, “Aku telah menginvestasikannya untuk diriku sendiri, agar aku dapat memetik manfaatnya di sebuah hari ketika harta dan anak-anak tidak lagi berguna.”
Kedua mata Umar seketika berkaca-kaca dan meneteskan air mata mendengar jawaban cerdas tersebut. Beliau berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka berada dalam kesusahan.”
Umar kemudian memerintahkan pengawal untuk membawakannya bahan makanan dan dua pasang pakaian baru untuk Umair. Namun, Umair menolaknya dengan halus seraya berkata, “Untuk makanan, kami belum membutuhkannya wahai Amirulmukminin.”
Ia menjelaskan bahwa ia masih meninggalkan dua gantang gandum di rumahnya, dan sebelum gandum itu habis, ia yakin Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Agung pasti telah mendatangkan rezeki yang baru untuk mereka.
“Adapun untuk dua pasang pakaian ini, aku akan membawanya pulang untuk istriku karena pakaiannya saat ini sudah sangat usang dan hampir hancur,” ujarnya.
Tidak lama setelah momentum pertemuan yang mengharukan antara Umar dan Umair tersebut, Umair bin Saad wafat menghadap Sang Khalik. Ketika berita duka tersebut sampai ke telinga Umar, rasa sedih dan kepedihan yang amat mendalam seketika melanda hati sang khalifah.
Beliau menghela napas panjang seraya berkata dengan penuh penyesalan, “Aduhai, seandainya saja aku memiliki beberapa orang pria yang berkarakter jujur dan zuhud seperti Umair bin Saad, niscaya aku akan meminta bantuan mereka untuk mengurus seluruh kemaslahatan urusan kaum muslim.”
(Disadur dari kitab Suwar min Hayat al-Shahabah karya Dr. Abdul Rahman Rafat al-Basha)






