NUIM HIDAYAT

Beratnya Jadi Pemimpin

Kepemimpinan adalah masalah yang sangat penting dalam Islam. Baik kepemimpinan diri kepada anggota tubuhnya, kepemimpinan keluarga, kepemimpinan masyarakat atau negara.

Anggota badan kita, apakah akal, jiwa, panca indera, tangan kaki dan yang lain perlu kepemimpinan. Kaum Muslimin yang mempunyai kitab suci Al-Qur’an, menjadikan Al-Qur’an sebagai pemimpin dalam menata tubuh. Akal tidak dibiarkan liar, sehingga akal digunakan untuk ‘mengakali’, menipu, membunuh tanpa sebab dan lain-lain. Akal tanpa pedoman wahyu adalah seperti akal pemimpin-pemimpin Amerika dan Israel. Pintar tapi licik. Pintar tapi kejam/sadis. Pintar tapi suka menipu.

Orang yang menggunakan akalnya tanpa petunjuk wahyu/Al-Qur’an diancam Al-Qur’an dengan neraka. Orang-orang kafir nanti di akhirat menyesal, karena tidak mau menggunakan akalnya untuk mengikuti Al-Qur’an. Allah Swt mengingatkan,

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Dan mereka berkata: Sekiranya dahulu kami mau mendengarkan atau menggunakan akal, niscaya kami tidak termasuk penghuni neraka (Sa‘ir).” (QS. Al Mulk 10)

Jiwa tanpa wahyu maka ia akan merana. Ia hidup seenaknya, sehingga jiwanya menjadi kotor/rusak. Ia suka minum minuman keras, berzina, tidak pernah/jarang beribadah dan lain-lain.

Al-Qur’an meneropong tentang jiwa manusia ada dua. Jiwa yang suci, jiwa yang selamat dan jiwa yang kotor, yang merusak jiwa manusia. Al-Qur’an mengingatkan,

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan (jiwa) itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. as Syams 9-10)

Selain manusia harus menyucikan akal dan jiwanya, Al-Qur’an juga mendorong manusia untuk menyucikan alat inderanya. Mata tidak digunakan untuk melihat pornografi (jorok), telinga tidak digunakan untuk mendengar hal-hal yang kotor, mulut tidak digunakan untuk makan/minum yang haram dan lain-lain.

Al-Qur’an mengingatkan,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan untuk (isi) neraka Jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. al A’raf 179)

Maka ketika manusia menggunakan akal, jiwa dan alat inderanya tidak sesuai dengan wahyu, yang terjadi adalah manusia seperti hewan ternak, bahkan lebih buruk daripada hewan. Kenapa? Ya karena manusia diberikan Allah akal, sedangkan hewan tidak diberi akal. Hewan hanya diberikan instink. Manusia dituntut tanggungjawab di kehidupan setelah mati, hewan tidak.

Jika akal dan jiwa rusak, maka manusia akan menjadi ‘hewan buas‘. Seperti para pemimpin Amerika dan Israel yang haus darah umat Islam. Amerika dalam sejarahnya telah membunuh lebih dari 38 juta manusia. Israel juga telah membunuh ratusan ribu manusia dan membuat jutaan manusia menderita.

1 2 3 4 5 6 7 8Laman berikutnya
Back to top button