#Bebaskan PalestinaSUARA PEMBACA

Palestina dan Kebangkitan Umat Islam

Melihat penindasan yang kejam, hati nurani mana yang tidak meronta. Saat itulah seseorang akan berpikir dan bergerak untuk mencoba mencari jalan dalam memberikan kontribusi.

Inilah yang dilakukan oleh para aktivis kemanusiaan Global Sumud Flotilla. Ratusan aktivis yang berasal dari berbagai negara bergabung membentuk sebuah gerakan.

Mereka bertekad menembus blokade Israel dan menuju Gaza demi menyalurkan bantuan kepada warga di sana. Ini murni gerakan kemanusiaan tanpa embel-embel politik atau militer.

Mereka berangkat dari Barcelona, Spanyol, pada pertengahan April. Akan tetapi, mirisnya di tengah perjalanan saat mereka baru sampai di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, Israel menyergap perahu-perahu tersebut.

Sekitar 180 aktivis diculik, mereka mendapatkan tindakan kekerasan dan perilaku tidak pantas. Kabarnya sekitar 178 telah dibebaskan kembali, namun dua aktivis yang merupakan warga negara Spanyol dan Brasil tetapi memiliki keturunan Palestina masih ditahan.

Mereka adalah Saif Abukeshek dan Thiago Avila yang kabarnya dipindahkan ke Penjara Shikma di Ashkelon, Utara Gaza (republika.co.id, 4/5/2026). Hadirnya para aktivis menunjukkan kegigihan dari sosok yang bahkan tidak dikenal namun rela berkorban.

Mereka menjadi saudara yang hadir untuk mengulurkan tangan, meski tidak banyak yang bisa diberikan. Akan tetapi, warga Palestina melihat mereka berusaha untuk datang meski dihadang Zionis Israel.

Pertanyaannya, lantas di mana hati nurani para penguasa muslim? Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, Turki, Yaman, dan lain-lain seharusnya tidak hanya diam.

Tidakkah mereka sedikit terenyuh untuk mengakhiri penderitaan saudara mereka di Palestina? Kemampuan mereka dipastikan melebihi para aktivis kemanusiaan ini.

Iran telah memperlihatkan betapa Amerika Serikat pun tidak mampu menghadapi Iran. AS kewalahan hingga menyeru negara-negara di Eropa untuk membantunya menyerang Iran.

Maka, tidak perlu dipertanyakan seberapa kuat jika seluruh negara di Timur Tengah bersatu melawan Zionis Israel untuk mengusir mereka sepenuhnya dari tanah Palestina. Tidak usah menunggu berbulan-bulan atau berminggu, cukup sehari bahkan satu jam mereka bisa selesaikan misi tersebut.

Akan tetapi, nyatanya berharap bantuan militer dari penguasa muslim bak pungguk merindukan bulan. Negara-negara dengan kekuatan militer dahsyat tidak mengeluarkan sedikit pun kekuatan mereka.

Mereka bersikap merendah dan lemah di hadapan musuh. Untuk menutupi aib keserakahan mereka, tindakan mereka tidak lebih dari sekadar mengecam dan mengkritik dengan keras.

Sungguh itu adalah aib keserakahan mereka karena tidak mau sedikit pun merugi atas usaha pembelaannya terhadap saudara seiman mereka. Keputusan mereka selalu kembali lagi pada kalkulasi untung rugi.

1 2Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button