OASE

Penghalang Menjadi Orang Saleh

Setiap orang tentu memiliki keinginan untuk menjadi pribadi yang saleh. Namun, bagi sebagian orang, menjadi saleh hanya sebatas keinginan tanpa upaya perwujudan yang nyata.

Bahkan, tidak sedikit perilaku manusia yang justru bersifat kontraproduktif dengan syariat Islam. Banyak orang justru menciptakan hambatan bagi dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang saleh.

Terkait hal ini, sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:

عَنْ عَلِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَوْلَا خَمْسَ خِصَالٍ لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَالِحِيْنَ اَوَّلُهَا اَلْقَنَاعَة ُبِالجَهْلِ وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا وَالشُّحُّ بِالْفَضْلِ وَالرِّياَ فِى الْعَمَلِ وَالْإعْجَابُ بِالرِّأْيِ

“Dari Ali radhiyallahu ‘anhu: Seandainya tidak ada lima perkara, seluruh manusia tentu menjadi orang-orang saleh. Pertama, merasa puas dengan kebodohan. Kedua, terlalu fokus terhadap dunia. Ketiga, bakhil terhadap harta. Keempat, riya dalam beramal. Dan kelima, membanggakan diri sendiri.” (M. Nawawi, Nashaihul ‘Ibad, hlm. 32).

Puas dengan Kebodohan

Kebodohan yang dimaksud dalam konteks ini adalah ketidaktahuan terhadap ilmu agama. Umat Islam saat ini banyak yang menguasai pengetahuan umum demi mengejar dunia yang fana.

Mereka mendalami ilmu bisnis, perdagangan, pertanian, hingga politik, tetapi kurang bersemangat mempelajari ilmu syariat. Semangat belajar tauhid, fikih, hadis, serta tafsir Al-Qur’an seharusnya menjadi prioritas utama bagi setiap Muslim.

Padahal, sebuah hadis menyebutkan bahwa Allah murka terhadap orang yang pintar ilmu dunia namun bodoh ilmu akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membenci setiap orang yang pandai dalam urusan dunia, namun bodoh dalam urusan akhirat.” (HR Al-Hakim).

Banyak orang justru memprioritaskan belajar ilmu duniawi demi meraih kehidupan di dunia yang sementara. Ilmu agama sering kali dinomorduakan dalam skala prioritas pembelajaran harian mereka.

Seharusnya, kehidupan akhirat yang kekal abadi memerlukan persiapan serta bekal yang jauh lebih cukup. Allah memerintahkan hamba-Nya mencari karunia akhirat tanpa melupakan bagian di dunia. (QS Al-Qashash: 77).

Namun, faktanya banyak orang yang membalikkan logika prioritas tersebut dalam kehidupan mereka. Dunia menjadi prioritas utama, sedangkan urusan akhirat hanya dikerjakan sebagai sampingan semata.

Padahal, umur umat Nabi Muhammad hanya berkisar antara 60 sampai 70 tahun saja. (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah). Umat Islam banyak yang mengerjakan salat sejak kecil, tetapi apakah mereka memahami makna bacaannya?

1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button