Ampunilah Aku, Ya Tuhanku
Peristiwa dalam kisah ini terjadi pada awal abad ini, tepatnya pada tahun 1909 Masehi. Kisah ini diceritakan langsung oleh pelakunya kepada saya ketika saya menunaikan ibadah haji pada tahun 1965 Masehi. Pada saat itu, beliau telah menjadi seorang syekh yang berusia lanjut.
Ketika saya mengunjungi Hijaz tiga tahun kemudian, saya mencoba mencari keberadaannya di Madinah Al-Munawwarah. Beliau dahulu memiliki sebuah rumah makan kecil yang menjual hidangan tradisional dengan harga yang sangat terjangkau. Namun, saat saya tiba di kedai tersebut, lelaki tua itu ternyata telah wafat.
Usahanya kini diteruskan oleh menantunya yang merupakan seorang warga Arab Saudi yang sangat ramah. Menantunya itu langsung mengenali saya, menyambut dengan hangat, lalu mengantarkan saya ke meja kecil tempat saya dahulu sering duduk bersama mertuanya. Setelah menyajikan makanan, pria itu meninggalkan saya sendirian untuk melayani pelanggan lain.
Saat menikmati hidangan perlahan dalam kesendirian, lisan lelaki tua itu seakan kembali terngiang menceritakan kisahnya. Dan inilah kisah beliau, sejauh yang dapat saya ingat kembali.
Saya tumbuh besar di sebuah gang kecil di kota Kairo dan memulai karier sebagai pekerja di sebuah toko kain. Pemilik toko tersebut adalah seorang saudagar yang sangat piawai dan paham betul dengan seluk-beluk urusan bisnisnya. Beliau sangat tahu cara mengelola toko kecilnya hingga berkembang menjadi sebuah tempat usaha dagang yang dihormati.
Saat pertama kali mulai bekerja di sana, saya baru menginjak usia sekitar dua puluh tahun. Saya harus merintis karier dari bawah dengan sangat lambat karena semuanya dimulai dari nol. Namun, pemilik toko tersebut sangat mengagumi kegigihan serta keterampilan kerja saya selama di sana.
Beliau kemudian menaikkan posisi saya dari pelayan menjadi pekerja biasa, lalu dipromosikan lagi menjadi seorang pramuniaga toko. Setelah tiga tahun mengabdi, beliau akhirnya memercayakan saya untuk memegang kotak kasir utama. Tugas saya adalah menghimpun dan menerima seluruh uang pembayaran dari para pelanggan toko.
Saya selalu bekerja dengan penuh ketelitian dan kewaspadaan yang tinggi di depan meja kasir. Melalui kedisiplinan itu, saya akhirnya benar-benar menguasai bidang pekerjaan pengelolaan keuangan tersebut. Kami bekerja selama dua belas jam penuh dari jam delapan pagi hingga jam delapan malam.
Sepanjang waktu kerja itu, saya hanya duduk di tempat yang sama untuk menerima uang. Setelah jam operasional toko berakhir, saya bertugas menyetorkan seluruh pendapatan harian dan memeriksa pembukuan bersama pemilik toko.
Selesai urusan toko, saya akan pulang meninggalkan tempat kerja dengan kondisi fisik yang sangat lelah. Kepala saya bahkan sering terasa pusing akibat jam kerja yang terlalu panjang setiap harinya. Saya biasanya menyempatkan diri mampir ke kedai milik kakak sulung saya terlebih dahulu untuk menyantap hidangan makan malam bersama-sama.
Di sisi lain, ibu saya tercinta sebenarnya selalu mendesak agar saya segera mencari pasangan hidup. Namun, saya memilih untuk menunda urusan pernikahan tersebut karena fokus pada impian masa depan. Saya selalu membisikkan sebuah ambisi besar di dalam hati kecil saya sendiri: “Jika saya berhasil mengumpulkan uang seratus pound, saya akan menyewa toko kain kecil sendiri.”
Demikianlah tekad saya, hingga akhirnya saya mulai menyisihkan uang koin demi koin dari penghasilan. Sayangnya, niat menabung tersebut justru berubah menjadi ketamakan yang merusak moral saya. Ketamakan itu mendorong saya melakukan tindakan pencurian uang kas toko secara berkala dalam jumlah kecil.
Every aksi pencurian yang saya lakukan tidak pernah lebih dari nominal dua pound saja. Tindakan tersebut sama sekali tidak terdeteksi karena besarnya rasa kepercayaan pemilik toko kepada saya. Lambat laun, tumpukan uang haram yang saya kumpulkan hampir menyentuh angka seratus pound, dan saya pun mulai meluangkan waktu mencari lokasi ruko strategis yang akan disewa nanti.
Di tengah rencana besar tersebut, ibu saya mendadak jatuh sakit parah secara tiba-tiba. Kondisi kritis itu mengharuskan ibu menjalani dua kali operasi medis di rumah sakit. Sayangnya, beliau tetap tidak tertolong dan akhirnya mengembuskan napas terakhirnya tak lama kemudian.
Musibah ini seketika menguras habis seluruh tabungan yang telah saya kumpulkan untuk biaya pengobatan. Setelah seluruh proses pemakaman usai, saya terduduk lemas meratapi nasib yang malang. Di dalam genggaman tangan, saya kini hanya memegang sisa uang sebesar empat pound saja, yang menghancurkan seluruh rencana masa depan yang telah lama saya susun.






