Piala Dunia 2026: Maroko Jaga Konsistensi dan Tradisi Religiusitas Pemain
JAKARTA (Suaraislam.id)– Perjalanan bersejarah tim nasional Maroko pada Piala Dunia Qatar 2022 selalu dikenang melalui serangkaian momen ikonik yang emosional.
Kita tentu ingat sundulan tinggi Youssef En-Nesyri yang menumbangkan Portugal, kelihaian dribel Hakim Ziyech, hingga tarian indah Soufiane Boufal bersama ibunya di lapangan.
Empat tahun berlalu, hampir seluruh pahlawan Qatar tersebut tidak lagi menghiasi skuad yang berangkat ke Amerika Utara.
Pemain lama yang tersisa dalam turnamen kali ini hanyalah Achraf Hakimi, Noussair Mazraoui, Azzedine Ounahi, Bilal El-Khanouss, beserta jajaran penjaga gawang.
Pelatih yang dahulu dipuja, Walid Regragui, kini juga telah digantikan posisinya oleh manajemen.
Baca juga: Tumbangkan Belanda, Maroko Melaju ke 16 Besar Piala Dunia 2026
Kendati mengalami perombakan radikal, Maroko belum terkalahkan dan sukses melaju ke babak 16 besar setelah menyingkirkan Belanda lewat adu penalti pada hari Senin.
Perbandingan antara Skuad 2022 dan Skuad 2026 pun menjadi hal yang tidak dapat dihindari oleh publik.
Untuk benar-benar membungkam para pengkritik, generasi muda saat ini dituntut menyamai atau bahkan melampaui pencapaian semifinal empat tahun lalu.
Maroko Edisi 2022: Pengalaman dan Taktik Bertahan
Pada Piala Dunia 2022, rencana taktis yang diterapkan tergolong sederhana namun sangat efektif.
Regragui yang ditunjuk mendadak menggantikan Vahid Halilhodzic hanya memiliki waktu kurang dari tiga bulan untuk membangun skema permainan.
“Tim asuhan Regragui lebih defensif,” ujar Mohammad Alrfae, seorang analis klub Liga Utama Yordania Al Ahli SC, kepada Al Jazeera.
“Dia memiliki pemain yang lebih tua dan berpengalaman dari klub-klub besar Eropa,” tambah Alrfae.
Di bawah kendali Regragui, Maroko tidak tertarik mendominasi penguasaan bola dan lebih memilih memancing lawan masuk ke dalam jebakan low block.
Strategi ini sangat efektif meredam agresivitas tim besar, khususnya Portugal yang frustrasi dalam kekalahan 1-0 di perempat final.
Namun, taktik bertahan ini menemui kendala besar ketika Maroko menghadapi tim-tim dengan peringkat di bawah mereka.
Maroko sempat gagal di dua turnamen Piala Afrika (AFCON) berturut-turut, termasuk edisi kontroversial tahun 2025 ketika mereka dinyatakan juara melalui keputusan WO oleh CAF.






