Bonus Demografi dan ‘Halal Way’ Pertumbuhan Ekonomi
Oleh: Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik, M.Sc.Ec., Dekan dan Guru Besar FEM IPB University.
Bonus demografi adalah anugerah yang hanya bermakna bagi mereka yang siap menjemputnya. Sejarah mencatat bahwa tidak semua negara yang mengalami ledakan usia produktif otomatis menjadi negara maju.
Perbedaannya terletak pada kesiapan kebijakan, kualitas sumber daya manusia, dan keberanian mengambil arah pembangunan yang tepat. Arah ini harus diambil pada dekade-dekade awal jendela peluang itu terbuka.
Jepang adalah contoh klasik dalam hal ini. Pada dekade pertama era pertumbuhan pesatnya, 1950 hingga 1960, ekonomi Jepang tumbuh rata-rata di atas 8,8 persen per tahun.
Ini merupakan sebuah lompatan luar biasa dari puing-puing pasca-Perang Dunia II menuju fondasi kekuatan ekonomi dunia. China mengulang pola serupa.
Pada dekade pertama era reformasi dan keterbukaannya, 1982 hingga 1992, ekonomi China tumbuh rata-rata sekitar 10,3 persen per tahun. Pertumbuhan ini ditopang reformasi struktural Deng Xiaoping yang berani dan konsisten.
Bandingkan dengan Indonesia. Dalam sebelas tahun terakhir, 2015 hingga 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata hanya berkisar di angka 4,3 persen per tahun.
Padahal, periode ini semestinya menjadi bagian penting dari jendela bonus demografi kita. Pertumbuhan ekonomi bahkan sempat terkontraksi tajam akibat pandemi pada 2020.
Artinya, di titik yang sepadan dalam siklus bonus demografi mereka, Jepang dan China tumbuh dua kali lipat lebih cepat dibanding Indonesia hari ini. Ini bukan sekadar perbandingan statistik, melainkan alarm bahwa kita berisiko melewatkan jendela peluang yang tidak akan pernah terbuka dua kali.
Namun demikian, sejarah juga mengajarkan bahwa bonus demografi bukan jaminan otomatis menuju kemajuan, dan polanya bisa berbeda-beda. Afrika Selatan adalah contoh kegagalan sejak awal.
Pada dekade pertama jendela bonus demografinya, 1970 hingga 1980, ekonominya hanya tumbuh rata-rata 3,6 persen per tahun. Capaian ini bahkan lebih rendah dari Indonesia hari ini.
Kegagalan ini akibat kebijakan diskriminatif era apartheid. Kebijakan tersebut membatasi partisipasi ekonomi mayoritas penduduknya.
Brasil justru menunjukkan pola yang lebih rumit. Pada dekade pertama bonus demografinya, periode 1970 hingga 1980, ekonomi Brasil sebenarnya tumbuh sangat tinggi.
Pertumbuhannya rata-rata sekitar 8,8 persen per tahun, setara capaian awal Jepang, dalam periode yang dikenal sebagai Brazilian Miracle. Namun, pertumbuhan ini dibiayai utang luar negeri secara tidak berkelanjutan.






