Mendirikan Sekolah, Melupakan Pendidik
Oleh: Fajri, S.Pd.I., M.Ag., Gr. (Kepala Sekolah dan Pegiat Literasi)
Mendirikan sekolah bukanlah perkara sulit. Namun, membangun pendidikan membutuhkan ikhtiar yang jauh lebih berat.
Sekolah dapat berdiri cukup dengan lahan, bangunan, izin operasional, serta modal dana. Akan tetapi, pendidikan hanya tumbuh apabila manusia di dalamnya turut dibina. Di sinilah persoalan sebagian sekolah swasta dan pesantren bermula.
Tahun ajaran 2026/2027 baru saja dimulai. Di berbagai daerah, sejumlah sekolah swasta dan pesantren bahkan telah membuka pendaftaran murid baru. Spanduk promosi dipasang, program unggulan ditawarkan, dan persaingan berburu peserta didik kembali terjadi.
Fenomena tersebut sangat wajar terjadi. Sebab bagi sekolah swasta, murid merupakan penyangga utama keberlangsungan lembaga.
Namun, di balik perburuan murid, muncul pertanyaan mendasar. Apakah kesungguhan itu diimbangi dengan upaya membangun para pendidik?
Sekolah Berdiri, Guru Menyesuaikan
Berbeda dari sekolah negeri yang ditopang APBN, sekolah swasta sangat bergantung pada pembiayaan SPP. Konsekuensinya terasa sangat sederhana.
Saat jumlah murid meningkat, ruang fiskal sekolah ikut bertambah. Sebaliknya, ketika murid berkurang, guru menjadi pihak pertama yang diminta memaklumi keadaan.
Banyak guru menerima penghasilan tak layak, mencari pekerjaan sampingan, hingga menunda kebutuhan keluarga demi pengabdian. Bahkan, perlindungan dasar seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan kerap diabaikan. Semua penderitaan itu lalu dianggap sebagai risiko lazim bekerja di swasta.
Salah Menghitung Investasi
Persoalan pendidikan swasta tidak selalu dipicu oleh keterbatasan dana. Banyak yayasan memang jujur berjuang dalam keterbatasan.
Mereka tentu sangat layak dihormati karena kegigihannya. Namun, tidak sedikit yayasan yang sanggup membangun gedung dan memperluas lahan, sementara kesejahteraan guru berjalan lambat.
Fenomena ini membuktikan bahwa masalah utamanya terletak pada penetapan prioritas. Gedung dipandang sebagai investasi, sedangkan guru dianggap beban biaya operasional.
Melalui teori human capital (1964), Gary Becker menegaskan bahwa kekuatan utama organisasi terletak pada kualitas manusianya. Bangunan sekadar menyediakan ruang, tetapi manusialah yang menentukan mutu.
Sangat ironis ketika lembaga yang mengajarkan pemuliaan manusia justru lupa menjadikan manusia sebagai investasi utama.
Ketika Ikhlas Kehilangan Makna
Satu kalimat yang sering diucapkan saat guru menuntut kesejahteraan adalah “yang penting ikhlas”. Tidak ada seorang muslim pun yang menolak keikhlasan.
Ikhlas merupakan inti setiap amal saleh. Namun, keikhlasan tidak boleh digeser menjadi instrumen manajemen lembaga.






