Gen Z dan Otak yang Tidak Pernah Benar-Benar Istirahat
Oleh: Haritsah Mujahid, Mahasiswa Universitas Siber Asia.
Pernahkah kalian membuka ponsel hanya untuk membalas pesan, lalu beberapa menit kemudian sudah berpindah ke Instagram atau TikTok? Atau ketika sedang mengerjakan tugas, fokus hanya bertahan beberapa menit sebelum refleks mengambil ponsel untuk mengecek notifikasi?
Hal ini terdengar sederhana, namun telah menjadi kebiasaan sehari-hari bagi generasi muda saat ini. Gen Z tumbuh bersama internet dan media sosial, di mana hampir setiap saat ada informasi yang selalu siap dikonsumsi.
Dari bangun hingga tidur kembali, ponsel hampir selalu berada di samping kita. Tubuh mungkin tidak banyak bergerak, tetapi pikiran terus-menerus menerima serbuan informasi tanpa henti.
Hidup di Tengah Informasi Tanpa Batas
Kehidupan Gen Z hari ini memang sulit dipisahkan dari dunia digital. DataReportal mencatat sekitar 230 juta pengguna internet di Indonesia pada akhir tahun 2025 dengan 180 juta identitas pengguna media sosial (Kemp, 2025).
Kehadiran internet tentu memberikan banyak kemudahan dalam memperoleh informasi, berkomunikasi, dan bekerja. Namun, kemudahan tersebut datang bersama tantangan berupa terbaginya perhatian (divided attention).
Kondisi ini berkaitan erat dengan information overload, yaitu situasi ketika seseorang menerima informasi berlebih sehingga sulit memilahnya. Penelitian Sihombing dan Juliana (2026) menunjukkan bahwa perceived information overload mendorong keinginan Gen Z untuk melakukan digital detox sejenak.
Masalah lainnya muncul ketika kebiasaan berpindah perhatian terbawa ke aktivitas yang membutuhkan fokus tinggi. Penelitian Mazid et al. (2025) memperlihatkan pentingnya kemampuan mengontrol perhatian (attention control) agar seseorang dapat terlibat secara mendalam (deep work) dalam aktivitas akademik.
Notifikasi, pesan singkat, dan video pendek terus berebut perhatian kita setiap saat. Tanpa disadari, berbagai hal tersebut mengikis kapasitas konsentrasi dan membuat pikiran kelelahan.
Melatih Mindfulness dan Mengambil Kembali Perhatian
Di tengah kondisi tersebut, mindfulness bisa menjadi cara untuk membantu kita mengelola perhatian secara sadar. Mindfulness adalah kemampuan untuk memberikan perhatian penuh terhadap apa yang sedang kita lakukan pada saat ini.
Menjadi mindful bukan berarti harus menghapus media sosial atau mematikan ponsel sepanjang hari. Hal terpenting adalah menyadari kapan teknologi digunakan karena kebutuhan dan kapan hanya sekadar refleks kebiasaan.
Penelitian Liu et al. (2024) menemukan bahwa pelatihan mindfulness singkat dapat membantu menurunkan kecenderungan kecanduan ponsel pada mahasiswa. Kesadaran terhadap perilaku diri menjadi kunci membangun hubungan yang lebih sehat dengan teknologi.
Ditinjau dari perspektif Human Literacy, mengelola perhatian menjadi keterampilan yang sangat krusial di era digital. Kita dituntut tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga memahami dinamika emosi dan kebiasaan diri sendiri.






