Ali Larijani, Kepala Keamanan-Filsuf Iran yang Gugur Dibunuh Israel
Dari diplomasi ke konfrontasi
Meski dikenal pragmatis dan pernah mendukung kesepakatan nuklir 2015, sikap Larijani mengeras dalam beberapa bulan terakhir.
Pada 2025, ia bahkan membatalkan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menyebut laporan mereka “tidak lagi efektif”.
Sebelum eskalasi perang, ia dilaporkan terlibat dalam negosiasi tidak langsung dengan AS melalui mediasi Oman, dan menyebut jalur diplomasi sebagai “rasional”. Namun setelah serangan AS-Israel, peluang diplomasi runtuh.
Ia menegaskan Iran tidak akan bernegosiasi dengan Washington, dan memperingatkan bahwa pasukan AS akan ditangkap atau dibunuh jika memasuki Iran.
Warisan dan dampak kematiannya
Larijani dianggap sebagai penghubung penting antara aparat keamanan, militer, dan elite politik Iran.
Menurut analis, kematiannya merupakan kehilangan besar yang akan memengaruhi pengambilan keputusan strategis negara.
Meski struktur politik dan militer Iran tetap berjalan, mencari pengganti dengan pengaruh seperti Larijani tidak akan mudah.
Ia dianggap sebagai salah satu tokoh kunci—tidak hanya dalam mengelola perang, tetapi juga dalam menjaga kemungkinan de-eskalasi di tengah situasi yang sangat sensitif. []
Sumber: Al Jazeera






