Ali Larijani, Kepala Keamanan-Filsuf Iran yang Gugur Dibunuh Israel
“Kennedy-nya Iran”
Lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, dari keluarga kaya asal Amol, Larijani berasal dari dinasti politik berpengaruh yang pada 2009 disebut majalah Time sebagai “Kennedy-nya Iran”.
Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, adalah ulama terkemuka. Saudara-saudaranya juga memegang posisi penting di Iran, termasuk di peradilan dan Majelis Ahli—lembaga yang memilih pemimpin tertinggi.
Ia juga memiliki hubungan dekat dengan elite revolusi Iran pasca-1979. Pada usia 20 tahun, ia menikah dengan Farideh Motahari, putri dari Morteza Motahhari, tokoh dekat pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini.
Filsuf sekaligus politisi
Berbeda dengan banyak tokoh Iran lainnya yang berasal dari latar belakang keagamaan, Larijani juga memiliki pendidikan sekuler.
Ia meraih gelar sarjana Matematika dan Ilmu Komputer dari Universitas Teknologi Sharif, lalu melanjutkan magister dan doktor dalam filsafat Barat di Universitas Teheran dengan tesis tentang Immanuel Kant. Namun, karier politiknya menjadi pusat pengaruhnya.
Setelah Revolusi 1979, ia bergabung dengan Garda Revolusi (IRGC) pada awal 1980-an, kemudian masuk pemerintahan sebagai Menteri Kebudayaan di era Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani (1994–1997), dan kepala penyiaran negara (IRIB) hingga 2004.
Pada periode 2008–2020, ia menjabat sebagai ketua parlemen (Majlis) selama tiga periode, memainkan peran besar dalam kebijakan domestik dan luar negeri.
Peran dalam isu nuklir dan politik
Larijani mencalonkan diri sebagai presiden pada 2005 tetapi gagal. Di tahun yang sama, ia diangkat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional dan kepala perunding nuklir Iran.
Ia mundur pada 2007 karena perbedaan dengan Presiden Mahmoud Ahmadinejad terkait kebijakan nuklir.
Sebagai ketua parlemen, ia membantu meloloskan kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) antara Iran dan kekuatan dunia.
Namun, upayanya mencalonkan diri lagi sebagai presiden pada 2021 dan 2024 digagalkan oleh Dewan Penjaga, yang menurut analis membuka jalan bagi tokoh garis keras Ebrahim Raisi.
Ia kembali berpengaruh pada Agustus 2025 ketika Presiden Masoud Pezeshkian menunjuknya kembali sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional.






