INTERNASIONAL

Bagaimana Iran Akan Mencoba Membunuh Trump?

Routh mengatakan ia ingin mencegah Trump memenangkan pemilu. Ia akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup atas percobaan pembunuhan serta berbagai pelanggaran senjata api.

Selain dua insiden domestik tersebut, Trump juga berkali-kali menyatakan dirinya menjadi target Iran.

Saat kembali dari KTT NATO di Ankara pada Rabu, Trump mengatakan: “Mereka ingin menyingkirkan pemimpin Amerika Serikat—saya.” Ia menambahkan: “Saya ada di setiap daftar mereka.”

Salah satu sumber mengatakan kepada CNN bahwa peringatan terbaru mengenai rencana pembunuhan itu muncul pekan ini. Sumber lain menyebut bahwa selama beberapa pekan terakhir memang terdapat arus informasi intelijen yang terus-menerus mengenai berbagai rencana semacam itu. Namun, peringatan dari Israel kali ini berkaitan dengan sebuah rencana yang lebih spesifik.

Trump bahkan menggunakan pesawat Air Force One lamanya saat meninggalkan Ankara. Sementara itu, pesawat baru pemberian Qatar diterbangkan lebih dahulu ke Inggris. Di Inggris, ia berpindah pesawat untuk melanjutkan perjalanan ke Washington.

Pergantian pesawat secara mendadak ini memicu spekulasi bahwa sistem keamanan pesawat baru tersebut belum sepenuhnya siap. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah Amerika melancarkan serangan baru terhadap Iran.

Ancaman Negara Lebih Mudah Dideteksi Dibanding Pelaku Tunggal

Perliger menjelaskan bahwa operasi pembunuhan yang disponsori negara biasanya dirancang dari tingkat atas, berlangsung lama, dan memiliki sumber daya besar. Namun, operasi semacam itu meninggalkan jejak berupa komunikasi, aliran dana, dan proses perekrutan yang relatif lebih mudah dideteksi oleh badan intelijen Amerika.

Sebaliknya, ancaman domestik seperti kasus Butler maupun Ryan Routh biasanya dilakukan oleh pelaku tunggal dengan motif pribadi. Mereka bergerak dengan perencanaan terbatas dan tanpa jaringan yang bisa disusupi aparat.

Ironisnya, kata Perliger, justru pelaku domestik yang kurang canggih itu hampir berhasil. Hal tersebut dikarenakan pergerakan mereka jauh lebih sulit dideteksi sejak dini.

Pada Februari 2025, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa ia telah meninggalkan instruksi apabila Iran berhasil membunuhnya. “Kalau mereka melakukannya, mereka akan dimusnahkan. Tidak akan ada yang tersisa.”

Pernyataan itu disampaikan setelah ia menandatangani perintah eksekutif yang memberikan kewenangan lebih luas untuk menerapkan kebijakan tekanan maksimum terhadap Iran.

Pada Januari 2026, Trump juga mengatakan kepada NewsNation: “Kalau sesuatu terjadi pada saya… seluruh negara itu akan dihancurkan.”

Sebelumnya, pada September 2024 ketika masih berkampanye, Trump telah menerima pengarahan dari Office of the Director of National Intelligence (ODNI) mengenai dugaan ancaman pembunuhan dari Iran. Ancaman tersebut diduga sebagai balasan atas tewasnya Soleimani.

Juru bicara Trump, Steven Cheung, saat itu mengatakan bahwa ancaman yang terus meningkat telah mendorong seluruh aparat penegak hukum bekerja sama. Langkah ini diambil demi memastikan keselamatan penuh bagi Trump.

Perliger menjelaskan bahwa ketika seorang presiden aktif menghadapi ancaman dari negara asing, Secret Service tidak lagi hanya mengandalkan perlindungan fisik. Mereka akan lebih mengutamakan pendekatan taktis yang berbasis pada informasi intelijen.

Hal itu mencakup koordinasi erat dengan FBI, CIA, dan NSA, peningkatan pengawasan serta counter-surveillance (kontra-pengawasan), perlindungan terhadap ancaman drone (pesawat tanpa awak), dan tim penembak jitu. Selain itu dilakukan pula pengamanan perjalanan yang diacak, serta pengurangan aktivitas presiden di ruang terbuka.

Ia menambahkan bahwa mantan presiden memang memperoleh perlindungan seumur hidup. Namun, jika muncul ancaman kredibel dari negara asing, tingkat pengamanan akan diperkuat sebagaimana terjadi terhadap Trump pada 2024 sebelum ia kembali menjabat.

Sementara itu, Doyle menilai bahwa berbagai rencana pembunuhan yang gagal menunjukkan adanya kemauan nyata dari Iran untuk melakukan operasi di wilayah Amerika.

Namun, menurut analisis ACLED sejak dimulainya perang Iran, aktivitas yang berkaitan dengan Teheran justru lebih banyak terjadi di Eropa. Aktivitas kelompok proksi maupun kelompok pro-Iran terpantau minim di Amerika Serikat.

Doyle menutup analisisnya dengan mengatakan bahwa membunuh Presiden Amerika Serikat kemungkinan besar akan memicu respons militer besar-besaran dari Washington. Tindakan tersebut bahkan mungkin melibatkan lebih banyak sekutu Barat.

Karena itu, rezim Iran mungkin menilai upaya serius membunuh Trump terlalu berisiko atau tidak sebanding dengan manfaat strategis yang akan diperoleh. Meskipun begitu, pertimbangan internal mereka tentu dipengaruhi oleh berbagai faktor lain. []

Sumber: Newsweek

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button